Tuesday, 6 March 2012

saturday night

malam minggu kemarin, aku dan suami pergi makan malam ke restoran di tengah kota cambridge, untuk merayakan hari jadi pernikahan kami yang pertama. kami memperoleh meja di pojok depan menghadap ke sebuah jendela kaca besar, hingga pandangan kami ke arah jalan utama sangat dekat dan jelas. sambil menikmati menu yang kami pesan ditemani redupnya nyala lilin di meja kami, sesekali kulayangkan pandang ke arah trotoar di mana semakin banyak manusia berlalu lalang meski malam bertambah larut.

ya, namanya juga malam minggu. malam di mana anak-anak muda atau yang berjiwa muda, keluar rumah bersama teman-temannya untuk berpesta. entah untuk apa, mungkin untuk merayakan berakhirnya satu siklus putaran hari-hari kerja. yang pasti, malam minggu memang malam yang ditunggu-tunggu.

ketika kami sedang asyik-asyiknya ngobrol, tiba-tiba pandanganku terusik oleh segerombolan anak muda seumuran 20-25 tahunan, kira-kira ada 6-8 orang aku lupa-lupa ingat, berjalan di trotoar dari arah lampu merah melewati depan restoran tempat kami makan. posisi meja kami memang paling strategis untuk memata-matai apa yang terjadi di trotoar persis di depan mata kami.

melihat segerombolan anak muda yang rata-rata berambut pirang ketika malam minggu adalah hal yang lumrah dan biasa. yang tidak biasa kali ini adalah karena salah satu dari mereka dengan santainya nongkrong di punggung temannya, alias dalam posisi digendong, mengenakan baju pendek, kakinya menjulur ke samping kiri dan kanan pinggul temannya tanpa penutup, tanpa merasa dingin, dan ia seorang cewek pula! yang menggendong kebetulan juga cewek, meski akhirnya si penggendong merasa kelelahan dan memberikan 'bawaannya' ke teman cowoknya yang dengan sigap mengambil alih tugas yang mungkin ia terima setiap malam minggu ini.

apakah mereka sedang main gendong-gendongan di trotoar? tentu saja tidak. cewek yang digendong itu mungkin sudah tidak kuat untuk berjalan sendiri karena (apalagi kalau bukan) mabuk. hanya itu satu-satunya alasan yang terpikir olehku. aku sendiri sudah kenyang melihat hal aneh-aneh di negeri barat yang mungkin sangat mustahil akan kulihat di negeriku, dengan gaya hidupku yang ndeso ini.

yang mengusikku justru pikiran sejauh mana gaya hidup seperti itu akan menghantarkan anak-anak muda untuk meraih masa depan mereka?

tingkah polah yang menurutku cukup aneh itu saja sebetulnya masih terbilang wajar di sini. masih banyak yang lebih aneh-aneh lagi. ketika kami meninggalkan restoran dan berjalan kembali ke parkiran mobil, di sepanjang jalanan kami lihat lebih banyak lagi makhluk-makhluk muda aneh dengan tingkah polah yang tak wajar yang sempat membuatku sedikit khawatir. tapi tentu saja aku merasa aman karena suamiku selalu menggandeng tanganku.

bukan ketakutan yang berlebihan sebetulnya, hanya saja kadang-kadang anak-anak muda ini karena berada di bawah pengaruh alkohol atau beberapa mungkin obat-obatan, jadi tidak berotak waras lagi. seringkali kasus penusukan, perkelahian dan permusuhan memang diawali dengan menurunnya tingkat kesadaran otak karena pengaruh benda-benda tersebut. dan kadang-kadang memang korbannya adalah orang lewat yang tak tahu menahu urusan sebenarnya, tapi sedang apes saja.

itulah salah satu alasanku yang paling kuat untuk sebisa mungkin tidak keluar malam, tidak pulang larut malam, tidak melewati daerah-daerah rawan kerumunan anak-anak muda (biasanya dekat klub-klub malam atau pub), dan tidak menyentuh benda-benda ajaib yang bisa mempengaruhi tingkat kewarasan otak tadi. suamiku sering menyebutku terlalu berlebihan, tapi menurutku dengan menghindari resiko sejak awal, kemungkinan untuk terlibat di dalamnya pun otomatis akan berkurang. betul, tidak?

coba saja jika anak-anak korban penusukan yang rata-rata kasusnya terjadi menjelang dini hari itu sudah berada di rumahnya masing-masing sebelum jam 12 tengah malam, sudah tidur manis di kasur empuk di rumahnya, bukannya kelayapan tak tahu juntrungannya, mungkin saja nyawanya akan terselamatkan. boleh saja kalian mendebat, kan memang sudah waktunya mati? sudah takdirnya jam segitu mati? tapi bukankah mati dalam damai jauh lebih baik daripada mati sia-sia karena jadi korban tindak kekerasan di jalanan?

ah, jadi horor sendiri...

yang lebih memprihatinkan lagi menurutku adalah gaya hidup seperti ini juga tak jarang ditemui di negeri-negeri timur yang 'seharusnya' adat ketimurannya lebih dijunjung tinggi. tapi tentunya bukan rahasia lagi kalau di tengah gemerlapnya lampu kota metropolitan jakarta, pemandangan yang sama atau mirip dengan yang aku saksikan dari balik kaca jendela restoran di sebuah kota kecil di eropa ini, sangat mungkin terjadi.

mirisnya, pelakunya adalah orang-orang lokal yang gaya hidupnya berubah drastis begitu malam menjelang dan mungkin bergaya hidup sewajarnya ketika pagi tiba. kalau di eropa, gaya hidup seperti anak-anak muda itu adalah cara mereka bersosialisasi dan sudah menjadi budaya mereka, tapi di indonesia sejujurnya aku tak tahu alasan apa yang mendasari gaya hidup barat ini justru menjadi kiblat. atau memang mungkin aku yang dasarnya ndeso dan kurang gaul, hingga tak pernah tertarik atau mengerti apa yang ada di benak para pencari keriangan di malam hari ini.

atau mungkin lebih baiknya memang begitu...tak perlu tahu...



.:kalau kamu suka artikel di atas, mungkin kamu suka ini juga:.

No comments:

Post a comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...