Thursday, 8 August 2019

jadi donor

aku udah kepikiran pengin nulis uneg-uneg ini udah agak lama, tapi baru sempet ngetik sekarang. kali ini mau ngebahas tentang donor!

siapa di antara pembaca yang budiman, yang udah pernah jadi pendonor? biasanya sih donor darah ya yang paling umum. gimana donor-donor yang lainnya? donor ginjal misalnya? donor mata? donor organ-organ tubuh yang lain? aduh, kok jadi agak serem gimana gitu ya 🙈
***

ngga usah serem.

ini cuma mau berandai-andai aja kok, setengah serius setengah santai. karena aku selalu kepikiran hal ini setiap kali ditanya apakah aku mau jadi pendonor atau engga? sementara ini aku selalu jawab engga dulu deh, belum siap. mentalnya dan fisiknya. donor darah aja aku ngga pernah. karena selain ngeri lihat jarum suntik, aku juga beratnya kurang. syarat pendonor darah itu kan harus punya bmi tertentu. aku selalu masuk kategori underweight kan, jadi ngga masuk kriteria.

di inggris sini, gerakan donor ini sudah jadi gerakan nasional. makanya tiap isi formulir ini itu, selalu ditanyain mau jadi donor apa ngga. terutama formulir yang berhubungan dengan kesehatan, seperti ngisi formulir di rumah sakit, dokter lokal, atau di dokter gigi.

di indonesia gimana? agak kurang kayaknya ya. 

di inggris sini, hampir rata-rata semua formulir apa aja, di bawahnya selalu ada kotak donor. buat diisi kalau kita berubah pikiran dan mau jadi pendonor buat apa aja. bisa darah, mata, atau organ tubuh yang lain.

pertanyaannya, apakah kita siap untuk jadi donor?

ini yang mau aku bahas di sini. sebelumnya, aku udah nanya-nanya lho, survei kecil-kecilan bagaimana pendapat beberapa temanku tentang kesediaan dan keikhlasan seseorang untuk mendonorkan bagian tubuhnya ketika mereka masih hidup (darah, ginjal contohnya), atau ketika mereka sudah meninggal nanti (organ apa saja, misalnya jantung, ginjal, otak, tubuh keseluruhan, dll).
terdengar aneh?

sebenernya ngga juga. ketika aku iseng-iseng survei di kantor, nanya beberapa kolegaku, ternyata sebagian besar dari mereka sudah menandatangani dan mendaftarkan diri untuk jadi donor, lho! apa yang mereka donorkan? mayat mereka nanti kalau sudah meninggal!

jeng..jeng..!!

***

buat apa? jika seseorang meninggal di sini, dan di database nasional terdaftar sudah mendonorkan tubuhnya keseluruhan, organ-organ yang masih bagus dan berfungsi biasanya akan segera di'panen' untuk ditransplan-kan (dicangkokkan) ke pasien-pasien yang masih antri dan butuh organ donor. bisa jantung, mata, ginjal, dst. apa saja yang masih bisa diambil, akan diambil.

bagian lainnya ya dikuburkan atau dikremasi sesuai persetujuan keluarga.

kalau di indonesia, menurut survei ala-alaku, kebanyakan sih pada bilang kalau di indonesia mungkin sistemnya yang belum siap. ada beberapa ketakutan atau kekhawatiran kalau organ donornya nanti bisa disalahgunakan, atau malah diperjualbelikan karena sistemnya korup, dan lain-lain. kekhawatiran lain, adalah kalau pendistribusian organ nantinya jatuh ke tangan mafia, penerimanya bukanlah mereka yang berhak dan sudah antri, tapi justru siapa yang berani bayar paling mahal, alias  sistem wani piro 😶

beberapa teman ada yang bilang, mereka bisa saja ikhlas jadi pendonor organ kalau misalnya si penerima donor sudah kenal baik, seperti anggota keluarga atau teman dekat, bukannya orang asing. kalau cerita seperti sudah banyak dengar sih ya, di mana banyak kisah ortu mendonorkan satu ginjalnya untuk buah hati, dan sebaliknya.

bagi pendonor yang setuju seluruh tubuhnya didonorkan setelah pendonor meninggal, biasanya tubuhnya dipakai untuk penelitian medis. kebetulan aku saat ini kerja di perusahaan yang mendesain alat kedokteran mutakhir. untuk ini, beberapa penelitian harus dilakukan di rumah sakit, dan sebelum alatnya dipakaikan ke pasien beneran, harus dilakukan uji coba klinis terlebih dulu.

nah, uji coba ini biasanya memakai tubuh orang yang sudah meninggal!

gila yah, serem juga hehe. untunglah aku ngga kerja di bagian yang berurusan sama uji coba klinis di rumah sakit. bisa keder duluan 🙈

***

dari segi etika atau agama gimana? tanya mbah gugel aja deh hehe 😁

banyak referensi sih, cari sendiri ya mana yang kalian percaya atau yang kalian anggap bisa diandalkan. haramkah? halalkah? silakan diputuskan sendiri. salah satu contohnya ada di tautan sini nih. buanyak yang lainnya. intinya yang tautan ini sih boleh-boleh saja, asal bla bla bla.

jadi kalau memang sudah diperbolehkan, kenapa gerakan donor organ masih belum begitu terdengar ya, di indonesia? atau aku aja yang ngga update ya karena udah ngga tinggal di sana lagi?

sementara di inggris, rata-rata orang sini yang kukenal sudah jadi pendonor. tanpa bantuan orang-orang seperti teman-teman pendonor yang rela menyerahkan sebagian atau keseluruhan tubuhnya setelah  meninggal, penelitian kedokteran dan kesehatan tentunya akan jalan di tempat dan ngga maju-maju.

pinjem dari sini

lalu, apakah memang harus negara maju aja yang mampu bikin penelitian? lalu negara berkembang  ngapain? cuma terima hasil aja gitu? #disambit

masih jauh memang kalau negara berkembang harus mengejar ketinggalan dari segi kemajuan penelitian teknologi, apalagi penelitian medis dan kesehatan. secara modal juga negara berkembang masih kalah jauh dalam hal menyisihkan anggaran untuk penelitian, apalagi penelitian medis yang tentunya mihil bingits. secara gdp juga negara berkembang duitnya jauh lebih sedikit sih.

jadi ya memang harus begitu kali ya, hehe 😆

***

balik lagi ke topik jadi donor!

tentu dibutuhkan keikhlasan tingkat tinggi untuk jadi pendonor, baik ketika kita masih hidup atau sesudah meninggal nanti. meski menurut teman-teman kantorku, jawaban mereka enteng aja. ya udah mati daripada dikubur doank kan ngga faedah. mending didonorin lah!

oh, gitu ya? aku sih bengong aja 😆

tapi kalau dipikir-pikir lagi ya bener juga sih. meski di dalam hati kok masih gimana gitu ya. kurang ikhlas? ngga rela? ngga siap mental? takut? ngga ngerti juga sih.

kalau menurut teman-teman gimana? mau ngga, jadi donor setelah meninggal nanti?
komen di bawah ya 👇😁

Tuesday, 6 August 2019

matur nuwun

ini masih berhubungan ama kursus renangnya si ethan, meski ceritanya bukan tentang belajar berenang.

hari minggu beberapa waktu yang lalu, kebetulan suami sedang asyik pengin menikmati acara olahraga di tv jadi dia agak malas nganterin si ethan kursus. akhirnya aku sendirian jadi supir taxinya si ethan deh.

sampai di kolam renang, semua biasa aja.

Saturday, 3 August 2019

konflik tiada akhir

disclaimer: semua yang tertulis di artikel ini adalah pengalaman pribadi penulis yang dituangkan dalam bentuk catatan. artikel ini ditulis tanpa bermaksud menyinggung ajaran, keyakinan, atau pandangan politik tertentu. pembaca dilarang ngegas...

***

satu hari kira-kira duapuluh tahun yang lalu, tahun berapa tepatnya aku lupa. pas masih muda dan masih imut lah pokoknya 😜

aku lagi asyik melototin layar komputerku, ketika tiba-tiba sebuah chatting box muncul di pojok kanan bawah. seseorang di luar sana menyapaku dengan nada riang seperti biasa. "hi muslim girl, how are you?". aku tersenyum, lalu tanganku mulai memencet huruf-huruf di atas papan keyboard dan kuakhiri dengan menekan tombol enter. "hi jews, i'm well, thanks. and you?"
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...