wadow! dow! dow! dow!
sejak tulisanku yang pertama beberapa hari lalu soal tragedi sosmed mbak saset yang kuberi judul gaduh lpdp, perkembangan kasusnya ternyata berjalan sangat cepat sekali dan malah meledak lebih parah, heu heu. kalau tadinya nada dan intonasi tulisan pertamaku ngerasa agak kasian secara mental kepada si mbak ini, setelah tulisanku tayang dan sosmed semakin ramai dengan banyak temuan baru lain, yang selanjutnya ditindaklanjuti oleh kementrian keuangan yang menaungi beasiswa ini, kok jadi pengin nulis lagi ya.
karena sepertinya memang kesanku dari yang tadinya agak kesian, sekarang kok jadi berubah.
gimana ngga berubah, setelah baca-baca banyak sekali testimoni dari banyak pihak baik follower si mbak maupun netijen iseng yang rajin banget bongkar-bongkar jejak-jejak maya si mbak ini sejak dulu. menurut mereka, karena anggapan dan opini orang itu selalu subyektif ya, mbak ini memang selalu songong dari dulu. cara dia berkomunikasi juga cenderung jedar jeder kayak kembang api. banyak juga yang ngebahas sisi psikologi serta kesehatan mental si mbak. jadi kemana-mana lah pokoknya, dikuliti abis!
masih kesian aku sebenernya sih, puk puk mb saset π
belum lagi efeknya ke sorotan publik terhadap skema beasiswa lpdp yang mungkin memang sudah lama disalahgunakan oleh penerimanya ini.
karena ternyata mentalitas pencari beasiswa itu sendiri sepertinya sudah banyak yang ngga bener sejak awal. mereka tahu dan paham kalau sistem kontrol dan monitoring beasiswa ini ternyata memang lemah, banyak celah, dan melempem. sehingga banyak yang nekat daftar buat supaya bisa pindah ke luar negeri dan cari kerja lalu menetap.
dan gara-gara kasus mbak saset ini, katanya banyak sekali penerima beasiswa yang mulai bersih-bersih akun sosmednya, mulai klarifikasi apa saja kontribusi mereka yang sudah diberikan ke negara supaya netijen ngga nyerang mereka, jadi pada pasang tameng duluan. trus katanya banyak juga yang ngerasa di posisi yang sama dengan suami mbak saset yang memang belum menjalankan kewajiban 2n+1 tapi masih nyangkut di luar negeri, udah mulai pada pasang ancang-ancang dan kuda-kuda kalau-kalau pihak kemenkeu akan memburu mereka.
meski memang ada argumen kalau kontribusi 2n+1 ke indonesia itu ngga harus selalu kudu dilakukan dari indonesia, tapi bisa juga kontribusi dari mana saja meski di luar negeri. sama saja seperti para diaspora lain yang hidup di luar negeri dan ngga bersangkut paut apapun dengan beasiswa lpdp, juga tetap bisa berkontribusi ke negara dari luar negeri. masalahnya di kasus #skandallpdp atau #lpdpgate ini, di klausul perjanjian pas menerima dana beasiswa, memang disyaratkan untuk membayar kewajiban 2n+1 dengan pulang ke tanah air!
gila yah, gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga.
eh, sebentar, apa gara-gara tersibaknya satu kebusukan kecil, kebusukan-kebusukan lain yang jauh lebih besar jadi terbongkar nih? sepandai-pandai menutupi bangkai, akhirnya akan tercium juga. gara-gara postingan mbak saset tentang paspor, kebongkar kalau suaminya belum 2n+1. karena ini kebongkar, pihak lpdp jadi ngecek semua alumni, siapa saja yang belum tuntas 2n+1 nya, dan masih ada di luar negeri? hmm, kira-kira bakalan ada berapa orang yang kejerat perburuan ini ya? π
kabarnya mereka-mereka yang masuk dalam kategori perburuan lagi pada panik sih.
hah? panik? ya iyalah panik, masa gak panik kalau ditagih pak purbaya sampe milyaran?! jadilah pada sibuk katanya udah pada beres-beresin sosmed mereka, ngapus-ngapusin jejak lpdp di bio, linked-in dan lain-lain sampe tutup akun. bahkan beberapa ada yang udah kerja, netap, dan sampe punya rumah di luar negeri. wadow dow dow dow, bandel-bandel ternyata sebagian dari mereka ini ya! dari yang tadinya disinyalir jumlahnya kira-kira ada sekitaran 400-600an orang katanya, bisa jadi naik ke angka ribuan kalau begini ceritanya sih.
oh ya, berita baiknya sih memang ternyata banyak penerima beasiswa yang sudah berkontribusi dan masih terus berkontribusi melalui banyak hal-hal positif untuk tanah air. dan tentu saja jumlah mereka sangat banyak, jauh lebih banyak daripada jumlah yang ngga memenuhi kewajibannya. makanya gara-gara beberapa yang ngga bener, nama yang lain jadi ikutan jelek. ibarat rusak susu sebelanga itu tadi, kan kesian ya.
herannya, mereka yang mau berangkat itu pastinya kan ada di database ya. kenapa engga dilacak dari situ saja keberadaannya? dikirimi email otomatis gitu kek pake formulir, disuruh laporan posisi lagi di mana, kan jadi jelas jumlahnya. udah ada aturan soal 2n+1 itu, kudunya kalau sistem monitoring atau watchdog penerima beasiswa ini dipantau dengan teliti dan kewajiban lapor bagi yang belum, sedang, dan sudah menjalankan kewajiban 2n+1 ini dengan tegas diberlakukan, seharusnya engga akan banyak yang fraud tapi lolos lenggang kangkung sih.
tapi yah, indonesia gitu lho.
pejabat korup yang leha-leha aja masih banyak, apalagi cuma penerima beasiswa yang leha-leha, bisa lebih banyak lagi. gimana buat pengemplang pajak yang juga leha-leha? banyak juga-kah? ngga salah sih si mbak saset ini giat banget kritik pemerintah, wong memang nyatanya ya masih banyak bolong-bolongnya. etapi ternyata senjata makan tuan ya. gara-gara terlalu oversharing hal lain, malah suaminya sendiri kena tembak, hiks.
moga-moga ini jadi sebuah pelajaran berharga bagi lpdp buat berbenah.
jadi pelajaran buat para penerima beasiswa untuk membayarkan kewajibannya setelah haknya diperoleh, diambil, dan dinikmati, jangan cuma mikir #kaburajadulu doank. jadi pelajaran juga bagi seluruh netijen indonesia buat lebih bijak dalam berinteraksi di sosmed, jangan sampe oversharing hal-hal yang ngga perlu dibagi ke khalayak ramai kayak mbak saset. tapi bagus juga sih kebongkar, jadi banyak pihak bisa bersih-bersih yang kotor-kotor. nanti kalau udah bersih dijaga ya, jangan sampe kotor lagi. buat pemerintah indonesia, dahlah no comment, lelah hayatiπ
eh, ngomong-ngomong aku juga ke eropanya pake beasiswa lho! untungnya beasiswaku dulu kuperoleh dari uni eropa.
jadi aku bisa nyengir kuda π
