Saturday, 4 February 2012

terjebak salju

beberapa hari belakangan ini memang suhu udara di inggris semakin turun, bahkan kemarin sampai mencapai minus 6, sewaktu aku pulang kerja hari jumat. kata ramalan cuaca sih bakalan ada badai salju. tahun-tahun yang lalu, salju memang selalu turun hampir tiap tahun, tapi ya sebatas tipis-tipis saja di daerah cambridgeshire sini.

kalau seperti di skotlandia, memang bisa mencapai ketebalan tertentu yang membahayakan pengguna jalan. jadi dengan berbekal pengalaman tahun-tahun lalu, suamiku dan aku santai-santai saja sewaktu kami memutuskan untuk menghabiskan hari sabtu ini pergi nonton pertandingan rugby di manchester. tapi tak dinyana, petualangan seru kami justru baru saja dimulai.

suamiku memang sudah lama berniat untuk nonton pertandingan satu ini. selain karena ini adalah pertandingan pembuka musim ini bagi tim kesayangannya, Salford Red, juga karena mereka akan bertanding di stadion baru yang sekaligus akan menandai peresmian pembukaan stadion megah ini. aku pernah diajak nonton sekali di stadion lama yang memang ukurannya jauh lebih kecil, nampak tua dan sederhana.

sedangkan stadion baru yang dibangun persis berseberangan dengan pusat perbelanjaan terbesar di inggris bagian barat laut, Trafford Centre ini, sangatlah megah. tak heran jika suamiku demikian semangatnya untuk pergi melihat tim kesayangannya bertanding di stadion baru nan megah itu. tiket sudah dipesan jauh-jauh hari, tiket parkirpun sudah dipesan juga. awalnya aku sempat ragu untuk ikut ke manchester karena ramalan cuaca yang bukannya tambah membaik tapi katanya akan tambah memburuk. 

sabtu pagi. 

kami bangun pagi disambut oleh cerahnya sinar mentari yang memancar lembut menembus jendela kamar tidur. di luarpun cuaca terlihat bersahabat dan bahkan kelihatan hangat, meski aku tahu warna putih-putih kecil yang berserakan di atas rerumputan itu adalah butir-butir embun yang membeku menjadi es, karena suhu di luar yang mungkin di bawah nol derajat di pagi itu.

langit biru bersih, kupikir mungkin memang ramalan badai salju itu kurang tepat. akupun menjadi semangat, bersiap-siap untuk perjalanan ke manchester yang memang sudah cukup sering kami lakukan. bekal makanan ringan dan minum sudah siap, selimut dan bantal untuk ngorok di mobil sudah siap, tiket siap, mobil siap, bensin... nanti isi di pom bensin dalam perjalanan ke sana, jaket tebal, sarung tangan, kaos kaki dobel, topi, baju rangkap lima, hehehe...siap!

kamipun berangkat...broom broom...

biasanya kami ke manchester lewat jalur A1 belok kiri ke M62 (yang tinggal di sini pasti tahu :-p). tapi hari ini untuk menghindari kemungkinan cuaca buruk yang mungkin kalaupun terjadi akan menimpa jalur yang biasa kami lewati tadi, suamiku memutuskan untuk ambil jalur A14, bablas M6.

perjalanan dimulai dengan lancar jaya. beberapa saat setelah melewati birmingham, langit yang tadinya biru pelan tapi pasti berubah kelabu. tak lama, hujanpun mulai turun. eh.. tapi yang diturunkan bukan air, melainkan salju. meski tidak begitu lebat, aku agak khawatir juga nanti pulangnya bagaimana. tapi karena waktu tempuh cambridge-manchester ternyata juga tak berubah, kami sampai dalam waktu 2.5 jam saja, akupun agak tenang.

setelah sempat mampir untuk makan siang dan minum di Trafford Centre, kamipun menuju ke stadion. parkiran mobil sudah seluruhnya tertutup salju tipis. seluruh halaman stadion sudah berubah putih, bahkan lapangan tengah di mana pertandingan rugby akan berlangsung. semua tertutup salju.

hmmm... bukan pertanda yang bagus!

tapi dengan banyaknya antusias calon penonton di stadion, di bawah guyuran salju yang tambah deras, di tengah-tengah suhu yang tak lagi bersahabat meski pakaian sudah rangkap lima, kami berduapun bergabung dengan massa penonton dan tenggelam dalam riuh rendahnya pertandingan. meski tim kami kalah, tapi kami puas.

suamiku senang karena impiannya tercapai untuk melihat timnya bertanding untuk pertama kalinya di stadion baru, aku puas karena berhasil melawan ketakutanku akan hawa dingin. nyatanya aku berhasil nonton pertandingan dari awal sampai akhir meski agak sedikit menggigil, tapi aku tidak menyerah meninggalkan bangku penonton menuju mobil, menyalakan pemanas dan tertidur menunggu pertandingan usai, hehehe...

kamipun masih berhaha-hihi begitu penonton bubar dan mobil-mobil mulai berderet antri menuju pintu keluar. karena kami parkir hampir di pojok belakang, terpaksa kami harus menunggu sampai 30 menit untuk beranjak saking macetnya. tapi kupikir, tak apalah, berangkat dari manchester jam 9 malam juga paling sampai rumah sebelum tengah malam kalau jalanan lancar jaya. kalau macet-macet sedikit, ya jam 12 malam masih okelah. ternyata oh ternyata....

hambatan pertama!

kami kembali memilih melewati jalur M6 melintasi kota birmingham lagi. salju tebal mulai terlihat di mana-mana menutupi jalan. untungnya karena jalur yang kami lewati termasuk salah satu tol paling ramai di inggris, jadi salju itupun mencair dengan cepat karena begitu banyaknya mobil yang melintas. hingga kira-kira mendekati kota Knutsford, ada pengumuman di papan tol kalau 1 ruas jalan ditutup total dan lalu lintas harus dialihkan.

kami pikir, tak apalah.

merayap perlahan bersama-sama para pengguna jalan lainnya, kamipun beriringan keluar tol, masuk desa, keluar lagi masuk tol lagi. rayap-merayap ini cukup lama juga ternyata, kami tertahan hampir 45 menit hanya untuk menempuh jarak yang mungkin cuma butuh 10 menit di tol. selain karena salju di jalan desa lebih tebal jadi kendaraan harus merayap, juga karena tertahan lampu merah di desa. tak apa, tantangan pertama terlewati! lanjut...

tantangan kedua!

masuk lagi ke tol M6, aku tertidur. waktu baru sekitar jam 10.30 malam. ketika terbangun, mobil sudah melewati birmingham dan siap-siap meninggalkan M6 menuju A14. disinilah petualangan baru menunggu! jalur A14 ini melewati perbukitan ceritanya. dengan ketebalan salju yang mulai meningkat menutup aspal, mobil yang melindasnya akan mengubah tumpukan lembut itu menjadi es.

tak ayal, tidak sedikit pengendara ceroboh atau yang kurang sabaran, meluncur bebas tanpa rem dan berakhir di selokan pinggir tol!

gara-gara ini pula jalur A14 macet-cet cet, mobil ada di 2 jalur tapi tak bergerak sama sekali karena ada kecelakaan jauh di depan kami. bahkan kami sempat mematikan mesin mobil dan menikmati piknik kecil di dalam mobil sambil menunggu jalur dibuka lagi.

o ya. perlu juga diketahui kemacetan ini bertambah panjang ekornya karena ketebalan salju di jalanan, jalur tol yang tadinya 4 atau 3, hanya 2 yang bisa dipakai. dan tol dengan hanya 2 jalur, cuma 1 jalur yang dipakai. tak ada yang berani coba-coba membuka jalur baru melintasi jalur tak terpakai yang tertutup salju. karena sudah pasti nasibnya akan berakhir tragis karena mobil tak terkendali.

satu-satunya tips mengendarai mobil di salju memang hanya mengekor mobil di depan dengan tingkat kesabaran tinggi. lebih lambat dari kura-kura tak apa, yang penting selamat. dan jangan pernah memasuki jalanan yang belum dilintasi mobil lain, kalau tak mau terperosok dengan sukses ke selokan. sebisa mungkin pastikan ada pengendara lain di sekitar, untuk membantu jika kita terpaksa perlu bantuan dan roda mobil terjebak salju.

jadi demikianlah, kami menunggu hampir 1 jam sebelum akhirnya lalu lintas mulai merayap lagi pelan-pelan.

seterusnya hampir sepanjang 50 mil, kecepatan rayapan kami hanya berkisar antara 5-10 mil per jam saja! naik sepeda bisa jadi lebih cepat dari konvoi kendaraan di atas salju ini. walhasil, kamipun sampai di ujung A14 waktu sudah menunjukkan hampir pukul 1.30 pagi!

alamakkkk... tak disangka, kami akan seterlambat ini sampai ke rumah. tapi dengan melihat tanda kota Huntingdon saja, kami sudah merasa di rumah. suamiku sudah menguap ribuan kali, aku sudah tertidur, terbangun dan tertidur lagi. mata sudah merah bercak bercak dan kepala sudah berat sekali rasanya. tapi salju di luar bukannya tambah menipis, malah turun lagi lebih banyak.

mantab!

pemandangan macet dari dalam mobil

cobaan ketiga!

di depan mata, sambil merayap aku sudah bisa melihat bundaran Spittel yang akan membawa kami lurus menuju kota kami. pastinya mabil-mobil lain akan belok kanan ke cambridge untuk lanjut menuju London. akupun gembira. eh... cuma ada sekitar 6 mobil di depan mobil kami sebelum lampu merah, semua tiba-tiba berhenti. lagi?!

ada apa kali ini?

ternyata ada sebuah sedan di paling depan, selip bannya. bukannya maju ke depan, dia malah muter-muter di tempat. walhasil, beberapa pengendara yang baik hati, turun dan mendorong mobil naas itu, sampai bisa lurus lagi dan terus didorong sampai lampu merah. enaknya di situasi menyedihkan seperti ini, semua orang tiba-tiba menjadi baik dan berjiwa menolong. alangkah syahdunya, aku terharu...

cobaan ini cuma terjadi kira-kira 15 menitan. jadi tak terlalu lama kemudian kamipun terbebas dari iring-iringan terpanjang sepanjang sejarah aku berada di mobil di negeri inggris ini. rekornya mungkin hanya bisa disaingi ketika aku pulang mudik lebaran dari bekasi ke semarang kira-kira tahun 2003 yang lalu, di mana mobil karyawan hiba utama yang membawa kami harus antri panjang menembus pantura selama hampir 24 jam! nggak lagi-lagi....

siksaan belum berakhir!

memasuki Huntingdon, kamipun lega. meski entah kenapa aku malah cemas karena kehilangan teman-teman konvoiku yang satupun tak kami kenal. hanya mobil kami sendiri yang memisahkan diri menuju ke timur, sementara konvoi panjang secara kompak menuju ke selatan. hadeuh, kalau ban kami selip siapa yang bantu ya? tapi tak apa, aku mulai berpikir strategik bagaimana kalau ini, itu dan anu. sampai terpikir untuk menginap di hotel Marriot di seberang jalan saja kalau jalan menuju rumah kami sangat tidak mungkin dilewati.

tapi ternyata kekhawatiranku tak begitu beralasan. sampai pertigaan di mana kami harus melintasi bukit, jalanan lancar meski kami lagi-lagi harus merayap pelan-pelan agar tidak berakhir di selokan seperti mobil-mobil naas penyebab kemacetan tadi. waktu sudah pukul 2 pagi ketika kami sampai di tantangan paling akhir, melintasi bukit! 

sebenarnya bukit ini tidak terjal sama sekali. sehari-hari jika cuaca normal, bahkan tidak terasa sama sekali kalau jalanan di situ memang agak menanjak sedikit. kalau naik sepeda mungkin baru berasa, karena kayuhan tiba-tiba menjadi berat sekali, hehe. suamiku juga sudah pasti letih menyetir dan ingin segera pulang, mandi air hangat, tidur.

ehhh... lha koq mobil-mobil di depan berhenti lagi???!!! ada apa lagi rupanya? kapan siksa ini berakhir ya Robbi...mataku bertambah perih karena menahan kantuk tapi tak bisa tidur karena ancaman mobil bisa nyebur ke selokan kapan saja, membuat nasib para pengemudi terlantar ini menjadi semakin merana.

kamipun bergabung antri di belakang 3 mobil yang dengan sabar menunggu sebuah truk di paling depan mencoba membantu temannya sesama pengendara truk yang lebih dulu terperosok ke tumpukan salju tebal. hampir semua bannya selip. segala upaya dicoba untuk membebaskan ban bandel itu, tapi yang terjadi justru truk penolongnya ikutan selip juga!

halah... mau nolong koq ya malah sengsara sama-sama. di depan truk itu masih ada satu mobil pribadi yang juga selip, untungnya mobil persis di depanku yang modelnya 4x4 dan tahan banting di jalanan bersalju karena memang didesain untuk off-road, mengeluarkan tambang dan menarik mobil itu keluar dari salju dengan sukses. phew! satu masalah teratasi.

tapi berhubung truk paling depan sekarang selip, jalanan yang hanya dua jalur itupun hanya menjadi satu jalur. walhasil mobil-mobil harus berjuang berpindah ke jalur sebelah yang ternyata saljunya lebih tebal karena tak banyak mobil yang melintas di jalur dari depan. satu persatu, dengan dibantu bapak-bapak yang mendorong dari belakang, mobil di depan kamipun terbebas dari antrian di belakang truk yang selip, dan mulai merayap naik bukit. tibalah giliran mobil kami.

o ya perlu diketahui dulu. mobil suamiku ini uniknya memang dipesan dengan ban model sporty yang ukurannya jauh lebih lebar dari ban-ban mobil pada umumnya. keuntungannya, terlihat keren *halah*, dan enak dan mantab buat ngebut /kecepatan tinggi maksudnya, dan di luar musim salju tentunya.

kekurangannya, ban jenis ini lebih mudah selip, karena permukaannya yang lebih lebar tidak memungkinkan mobil untuk mempunyai cukup tekanan ke permukaan jalanan dibanding ban dengan permukaan sempit. aku pernah selip sekali, masuk sawah! untungnya pas sawahnya beku dan kering hingga bisa keluar dengan sukses dengan sekali dorong saja. itu musim dingin tahun lalu, yang notabene saljunya tipis, jauh lebih tipis daripada sekarang. nah kan?!

pelan-pelan kamipun merayap mencoba untuk berpindah jalur dari belakang truk macet tadi, ke jalur sebelah. karena merayapnya sambil menanjak, walhasil ban sporty yang keren ini bukannya maju, eh malah belok ke samping kiri. aku panik! suamiku masih mencoba untuk tenang, ia coba lagi, sambil dua bapak-bapak mendorong dari belakang. tapi mobil bandel ini tetap saja maunya melenceng ke samping kiri, bukan maju ke depan, holoh...pengeyelan tingkat tinggi!

sampai berkali-kali tanpa hasil, sementara antrian mobil di belakang kami bertambah panjang, suamikupun frustasi dan mencapai titik keletihan fisiknya. aku juga tak kalah heboh dan mulai berteriak-teriak ke suamiku untuk berhenti mencoba! karena meskipun panik, aku maksudnya ingin tetap berlogika, gitu lho. memang ban mobil kami bukan dirancang untuk kondisi ini, dan mencoba itu tak harus terus menerus. kita harus tahu kapan berhenti, jika memang usaha kita tak membuahkan hasil, dan bahkan malah mungkin membuat kita semakin terperosok ke dalam salju!

teriakanku berhasil!

suamiku berhenti dan ikut berteriak karena frustasi. aku nyalakan lampu emergensi. mobil di belakangpun mengerti dan mulai perjuangan mereka satu persatu. hampir kira-kira 10-an mobil di belakang kami lolos menyalip mobil kami, dan truk tadi. semuanya memang mobil ber-ban biasa. setelah tak lagi ada antrian, kamipun agak tenang.

kepanikan kami salah satunya juga disebabkan karena antrian tadi sebenarnya. begitu tak ada mobil lagi, suamikupun mencoba sekali lagi, penasaran katanya. masih dibantu dua orang baik yang tak kami kenal, mobil meluncur pelan, tapi tetap selip! 

ya sudahlah, kataku.

balik kanan saja dan berpikir, bagaimana caranya pulang, atau mending cari hotel terdekat saja menunggu pagi. lhah, jam sudah menunjukkan pukul 2.30-an. sudah pagi itu mah! kamipun balik kanan, yang notabene lebih mudah karena jalanan menurun. asal rem pakem, mobil jalan saja di atas salju. suamiku minta maaf atas teriakan-teriakan histeris konyol karena panik tadi. aku senyum-senyum lega karena ia tidak tetap ngotot mencoba tanjakan maut tadi. phew!

mending hilang uang bayar hotel daripada masuk selokan malam-malam bersalju! ya toh?!

melewati pompa bensin, kami putuskan untuk mengisi tanki, yang cepat sekali menguap gara-gara semua tantangan kemacetan salju ini. setelah bensin penuh dan ada waktu tenang untuk berpikir sejenak dengan otak segar karena kantuk sudah hilang entah kemana gara-gara panik tadi, suamiku punya ide untuk mencoba lewat jalur lain yang lebih landai tanjakannya.

aku masih pesimis untuk pulang, pilih cari penginapan saja. tapi akhirnya aku setuju untuk mencoba jalur landai tadi, meski agak memutar jauh, karena suamiku setuju untuk mencari penginapan jika jalur itupun mustahil untuk ditembus.

sambil komat-kamit berdoa, kamipun meluncur ke kota sebelah, mencari jalur alternatif yang tak melewati bukit. tetap merayap, pelan-pelan kami lewati ruas demi ruas jalanan bersalju. tak pernah kulihat seumur hidupku salju setebal itu! sudah 6 tahun aku hidup di eropa, sekali pernah ke korea, jadi sudah 7 kali aku menikmati salju, sepertinya tahun inilah yang paling tebal dan berbahaya!

singkat cerita, kamipun sampai di kota tempat kami tinggal dengan selamat. waktu menunjukkan pukul 4.20 pagi ketika kami memasuki area perumahan tempat tinggal kami. tinggal satu belokan lagi dan kamipun sampai ke rumah kami yang hangat dan nyaman. 

lampu tanda belok kanan dinyalakan, mobil siap-siap memasuki jalan perumahan. eittt! apa itu di depan? dua mobil tetangga kami berjuang setengah mati keluar dari salju, dua-duanya selip juga hahahahaaa....

mau ketawa dan nangis di saat yang sama rasanya. tinggal sejengkal lagi, tapi tak juga selesai cobaan ini. ya sutralah, aku minta suamiku parkir di mana saja, di jalanan terdekat yang agak bebas salju. sambil menenteng barang-barang bawaan, aku dan suamiku berjalan terseok-seok melintasi tumpukan putih bersih yang terhampar sejauh mata memandang. kaki kami tenggelam hampir sebatas betis, meninggalkan jejak-jejak lubang yang cukup dalam di karpet alam yang cantik bernama salju itu.

salju depan rumah, itu mobil tetangga sampai ga kelihatan, 
cuma rodanya doank hehe

ahhhhh....

tak ada tempat yang lebih indah selain rumah sendiri, ketika akhirnya kuputar anak kunci dan kudorong pintu depan rumahku, meski sebagian daun pintunya tertutup salju.

ketebalan salju di depan pintu, 
sepatu suamiku sampai ga kelihatan

waktu tepat pukul 4.30 pagi, sudah hari minggu. setelah menempuh perjalanan luar biasa yang mestinya hanya 2.5 jam tapi hari ini menjadi hampir 7.5 jam itu, sambil menyeruput teh panas, aku memutuskan untuk merekam ingatanku secepat mungkin ke blog ini. suamiku? sudah pulas tertidur sejak 1.5 jam yang lalu.

aku segera menyusul...zzzz...

cambridgeshire, 
5 Feb, first snow in 2012
06.30AM

No comments:

Post a comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...