belakangan ini makin banyak nemu postingan-postingan dari para diaspora yaitu orang indonesia yang tinggal dan hidup di luar negeri, yang isinya ngga jauh-jauh dari ngeluh soal kelakuan sebagian sesama warga diaspora, yang katanya kelakuannya ngga banget deh.
katanya nih, orang indonesia kalau ketemu sesama orang indonesia di luar negeri itu persaingannya sengit sekali, ternyata. omaigat!!!
dari yang kubaca-baca tentang beberapa keluhan ini sih, sepertinya si pengeluh itu ngerasa kalau dia disengitin sama sesama diaspora lain, yang kata mereka merasa tersaingi. hmm, menarik sekali yah. jadi inget frase tall poppy syndrome dan crab mentality nih. tapi, sebenernya mereka-mereka itu pada saingan apaan sih? kok aku ngga ngerasa punya saingan yah.
eh salah, kan aku ngga punya banyak temen diaspora, jadi mau saingan sama siapa π
coba yuk kita telaah, kupas, dan bahas kira-kira mereka-mereka itu saingan dalam hal apaan aja dan kenapa bisa sampe sesengit itu cakar-cakarannya π
1) status
ini sepertinya memang topik terpanas di antara para diaspora. inget ngga beberapa waktu lalu sempat rame soal jalur lendir? udah pernah kutulis di tautan ini sih. jadi ngga akan kuulang-ulang lagi detilnya di sini ya. nah, soal status ini sepertinya masih jadi hal utama yang sering djadikan bahan berantem. yang hidup di luar negeri karena statusnya nikah dengan warga asing, atau yang statusnya pekerja, biasanya memang ada di kelompok tersendiri dibandingkan yang statusnya pelajar atau mahasiswa. tapi biasanya yang cakar-cakaran itu kebanyakan memang yang kelompok masyarakat atau non-pelajar sih, jarang deh aku nemu ada pelajar atau mahasiswa yang terlibat kasus beginian.
sudah paham kan sejauh ini? #sedia_aku_sebelum_hujan π
2) suami/pasangan
kebanyakan memang suami sih ya yang diperkarakan oleh para istri yang bertikai. karena meski ada juga laki-laki indonesia yang nikah dengan orang luar, tapi jumlahnya memang jauh lebih sedikit. kebanyakan memang para perempuan indonesia yang bersuamikan warga negara asing, entah bule entah sipit entah kriwil. meski ada juga pasangan diaspora yang keduanya adalah warga indonesia, yang pasti supaya bisa disebut diaspora itu kudu tinggalnya di luar negeri.
nah, biasanya yang pada berantem cakar-cakaran ini karena pada banding-bandingin suami masing-masing. kalau ngga bandingin kerjaannya apa, bandingin gantengan siapa, atau ngatain soal umur. apalagi memang ada beberapa yang ketemu suaminya yang sudah berumur, makin dikatain deh tuh.
3) harta kekayaan
ngga sedikit juga diaspora yang saling nggosip dan saling gesek-gesekan karena harta kekayaan. di beberapa wilayah, bahkan katanya banyak grup-grup diaspora yang terbentuk berdasarkan status kekayaan mereka. yang ngga selevel jumlah hartanya ngga akan bisa masuk ke lingkup pertemanan tertentu. kalau ini sih kayaknya di mana-mana sama aja sih ya, ngga cuma di luar negeri. di indonesia juga banyak grup-grupan model beginiπ
4) klik
ini juga sepertinya cukup manusiawi sih ya. karena nyari teman yang klik itu memang susah susah gampang. dan kalau ngga klik dan ngobrol ngga nyambung ya memang susah buat temenan. masalahnya, kalau ngga bisa klik ya ngga usah pake berantem segala.
kurang kerjaan apa pada yah π
udah sih, aku cuma bisa mikir 4 kelompok di atas, yang biasanya jadi alasan klasik pertikaian-pertikaian yang sempat kupantau lewat sosmed dan internet. karena sejujurnya akupun sangat jauh dan berjarak dengan para diaspora dalam kehidupanku sehari-hari. boleh dibilang aku tuh ngga punya teman sesama orang indonesia, hehe.
alasannya?
ya ngga pengin aja. hidupku sudah sibuk banget. ngga ada tenaga dan waktu untuk berteman atau sekedar berhaha-hihi. apalagi sampe ketemuan rutin dan bikin acara bareng. dan aku ngga papa dengan konsep hidup yang begitu. i'm perfectly fine with that π
sebagai seorang yang introvert akut, aku memang lebih milih menjauh dari kebisingan dan hiruk pikuk pertemanan. aku ngga punya kapasitas untuk itu, baik kapasitas waktu, tenaga maupun mental. semakin sedikit persinggungan dengan manusia di luar keseharian, kerjaan, dan keluarga, aku semakin fokus dan bisa menikmati hidup. semakin menua, jumlah temanku yang tadinya bisa dihitung dengan jari tangan dan jari kaki, saat ini cuma bisa diitung dengan jari tangan kanan alias sedikit sekali π
itupun semuanya jauh rumahnya dan kami cuma sama-sama kontak kalau butuh saja, dan tanpa drama!
sekali ada yang mulai drama, langsung ku-cut. jadi yang tersisa memang mereka-mereka yang anti-drama dalam hidupnya. ngalir dengan tenang, kalau pas bersinggungan ya hore-hore bareng, trus ngilang lagi, dan nanti ketemu hore-hore lagi. simpel dan praktis.
bagi para diaspora yang saat ini masih bergumul, bergelut dan terlibat dalam berbagai macam gosip, pertikaian, dan masih banyak keluhan soal pertemanan dengan diaspora lain, ini saran-saranku semoga membantu:
- pahami kalau crab mentality dan tall poppy syndrome itu sangat manusiawi, jadi ngga perlu dilawan. crab mentality itu adalah mindset seseorang di mana individu itu selalu berusaha untuk menjatuhkan individu lain untuk turun ke level mereka jika mereka ngelihat orang lain lebih berhasil atau lebih sukses dari mereka. intinya ini adalah kelompok si tukang iri dengki. frase ini mirip juga artinya dengan tall poppy syndrome, di mana orang yang sukses dan terlihat lebih berhasil dari yang lain akan menimbulkan keirian dan kecemburuan sosial di lingkungannya. cara ampuh untuk menghindari berada di posisi dicemburui dan diiri-in, ya dengan memutus lingkaran pertemanan dengan komunitas yang ada kecenderungan seperti ini.
- pilih-pilih teman dengan hati-hati. hidup itu memang butuh interaksi sosial. tapi kita sebenernya ngga butuh banyak teman kok. kecuali kamu ekstrovert parah, yang kalau ngga ketemu orang sehari saja rasanya mau mati, ya memang kudu butuh banyak teman setiap saat. ini lebih sulit dibandingkan kaum introvert yang ngga butuh teman banyak-banyak.
- jangan cuma berteman dengan orang indonesia saja! udah tinggal di luar negeri kok mbuletnya di situ-situ doank. kepakkan sayapmu. libatkan dirimu dengan kegiatan lain dengan teman-teman dengan warga negara yang beragam. ini lebih mudah kalau kamu kerja, kolega di kantor sudah bisa memenuhi kebutuhan ini. buat yang ngga kerja formal, banyak kok kegiatan volunteer atau sukarelawan yang dibutuhkan di berbagai bidang di sekelilingmu. tinggal gugel saja, cari aktivitas di luar, selain nambah wawasan, nambah pertemanan, juga akan membuka kesempatan-kesempatan baru dalam hidupmu.
itu aja sih, semoga membantu.
SALAM DIASPORA!

No comments:
Post a Comment