Friday, 19 August 2011

liburan

ketika musim panas tiba, rata-rata penduduk eropa, amerika dan negara-negara maju lainnya tiba-tiba disibukkan dengan satu kata ini, liburan. tiket pesawat, kereta atau kapal pesiar yang biasanya sudah dipesan jauh-jauh hari sebelumnya, bahkan beberapa ada yang sudah dipesan setahun yang lalu, kini saatnya untuk digunakan.

ya! pergi berbondong-bondong ke tempat-tempat wisata. kawasan favorit yang ditujupun biasanya itu-itu saja. selatan perancis, selatan spanyol, selatan inggris, atau yang punya uang lebih akan memilih berlibur ke kawasan tropis di asia, afrika utara atau amerika selatan. benar sekali, mereka semua ingin menikmati udara hangat, bermain di pantai, berenang di laut, anak-anak  membangun istana pasir, dan semacamnya.

kebiasaan ini sudah melekat menjadi tradisi masyarakat negara maju ini, hingga tak peduli dari latar belakang sosial mana, muda tua, kaya miskin, semuanya ingin berlibur di waktu yang sama. langit biru cerah, awan berarak, matahari bersinar, anak-anak libur sekolah, orangtua berbondong-bondong mengambil cuti, perkantoran mendadak sepi, bandar udara, stasiun kereta dan terminal kapal laut menjadi hiruk pikuk.


kenyataan bahwa kaum pekerja di eropa/amerika berpendapatan lebih tinggi dibandingkan dengan kaum pekerja di kawasan lainnya, dan cuti tahunan selama lima-enam minggu yang lebih dari cukup jika digunakan untuk berlibur, mendorong tradisi ini berkembang. 

secara ekonomi, kegiatan tahunan ini juga mendongkrak industri pariwisata, perhotelan, penerbangan dan sarana berlibur lainnya. tak heran jika sebuah keluarga akan merasa turun gengsinya jika musim panas tahun ini mereka tidak punya liburan. semakin jauh mereka pergi berlibur, semakin bangga rasanya sewaktu kembali dan bercerita ke sanak famili dan teman lainnya. begitu seterusnya.

aku sendiri memaklumi pandangan dan pendapat mereka mengenai liburan ini. selama setahun orang-orang ini hanya memperoleh sedikit sinar matahari dan cuaca yang hangat dan nyaman di musim panas yang biasanya hanya berlangsung selama satu atau paling lama dua bulan saja. selebihnya, mendung terus menerus, sejauh mata memandang hanya abu-abu kecoklatan warna langitnya.

kadang hujan, lembab dan dingin, kadang bersalju tebal dengan hawa menusuk tulang. jika tak kuat hati, penyakit depresi akan dengan mudahnya menghinggapi. hingga ketika musim panas tiba, mereka segera bersuka ria dan merayakannya dengan berlibur bersama keluarga.

bagiku, liburan tidak pernah menjadi sesuatu hal yang penting. raga dan pikiranku tidak pernah menuntut akan hal itu. terlahir di negara tropis, aku sudah cukup puas bermandikan sinar matahari sejak bayi. bahkan kini aku tak begitu suka karena alasan klasik tak ingin berkulit gelap karenanya. tumbuh dan bersekolah di negara berkembang dari keluarga sederhana, liburan sekolah selalu aku habiskan di rumah bersama saudara-saudaraku. tak pernah ada kata wisata.

bermain bersama, membaca buku, membuat kerajinan kristik, bermain catur, memanjat pohon mangga dan jambu, bermain gobak sodor atau lompat tali dengan anak-anak tetangga, adalah arti liburan yang sebenarnya bagi kami. liburan adalah tidak pergi ke sekolah, itu saja. alih-alih berlibur ke luar negeri, ke kota lainpun hampir tak pernah. kata "liburan" memang tak pernah tertulis dalam kamus keluarga kami.

sebegitu jauhnya aku dari kebiasaan berlibur, sewaktu bekerja di kawasan jabodetabek-pun aku selalu memilih untuk meng-uang-kan jatah cuti tahunanku. uang ini bisa kugunakan untuk keperluan penting yang lain terutama saat aku melanjutkan kuliah lagi dan mulai mengikuti kursus ini itu. aku tak butuh liburan.

di saat aku perlu belajar, bekerja dan berjuang memperbaiki taraf hidupku, liburan kuyakini hanya sebagai kegiatan yang menghamburkan uang saja. aku tak paham apa perlunya. satu periode di dalam hidupku itu, tak pernah kulihat kota lain, tak pernah kuinjakkan kaki ke kawasan wisata dalam negeri, tak pernah ku pergi ke pulau tetangga yang katanya indah tak terperi. aku tak pernah ke mana-mana. kerja, kerja, kerja.

kini, setelah berdomisili di inggris, akupun bingung. kucoba memberikan arti baru bagi kata "liburan" untukku.

aku tetap memperoleh hak yang sama sebagai karyawan perusahaan untuk memperoleh lima minggu cuti per tahun yang biasanya oleh teman-teman sekantorku digunakan untuk berlibur saat musim panas tiba. seringkali aku bingung bagaimana untuk menghabiskan masa cutiku. musim panas aku tak mau pergi ke daerah tropis untuk mandi matahari. tapi aku juga tak punya keluarga di sini untuk dikunjungi atau bermain bersama karena aku bukan anak-anak lagi.

sebelum menikah, lebih sering aku memanfaatkan seluruh cuti tahunanku di akhir tahun menjelang perayaan natal, sehingga aku tak perlu pergi ke kantor ketika salju mulai turun dan hawa di luar dingin menusuk. cuti kugunakan untuk berhibernasi di dalam rumah, di bawah gumpalan selimut tebal membaca buku dan bermalas-malasan.

atau terkadang bermain dengan peralatan dapur dan mencoba resep-resep baru, memasak masakan indonesia yang kukangeni sambil menikmati program-program di layar televisi. aku tak keberatan untuk tetap bekerja selama musim panas ketika kantor agak sepi karena sebagian pergi berlibur bersama keluarga mereka, asalkan aku bisa menikmati kehangatan rumah saat musim dingin tiba.

tapi kini aku tak sendiri lagi. suamiku yang bertradisi lokal selalu berharap untuk menikmati musim panas di luar sana, bermandikan matahari, atau merasakan terpaan angin laut yang hangat di kawasan pantai. aku kini harus merubah strategi. meski aku tak terbiasa berlibur, meski aku tak suka matahari, meski aku tak butuh istirahat dari pekerjaan sehari-hari, tapi aku ingin menyenangkan hati suami.

bukan sekedar untuk merasa wah atau karena rasa gengsi, jadwal berlibur kini mulai tertulis di kalenderku. mungkin semua hal memang harus dibiasakan terlebih dahulu, sebelum sesuatu itu akhirnya bisa berubah menjadi sebuah tradisi.

No comments:

Post a comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...