Monday, 24 July 2017

anak2 gue, suka2 gue

ini soal gaya parenting...

kalo yang baca ini para ortu yang punya anak juga, aku mau disclaimer dulu ya, supaya ngga pada ngamuk setelah baca ini. kalo mau ngamuk juga setelah baca ya monggo, energi yang dihabisin kan punya situ sendiri hehe. postingan ini kutulis bukan untuk nge-judge para ortu di luar sana, tapi tulisan ini kutulis sebagai pengingat diri sendiri, kalo nanti dibaca-baca lagi biar inget dulu niat parenting-nya mau gaya gimana.

namanya juga opini pribadi, kalo bapak-bapak dan ibu-ibu setuju, boleh ditiru. yang ngga setuju, ya ngga papa.

satu ketika aku baca postingan teman di fesbuk. dia ngaplot foto suasana lomba nggambar atau mewarnai di suatu event. di foto itu, yang kelihatan adalah para peserta lomba yang usianya masih anak-anak (5 tahunan gitu lah), didampingi oleh para orang tua mereka. wajar lah ya anak ikut lomba ortunya mendampingi. untuk memberi semangat dan juga bimbingan.

ngga ada yang salah...

eh tapi, kok yang pegang pensil warna bukan anak-anaknya ya? dan kenapa para orang tua jadi malah pegang pensil warna semua, dan sibuk mewarnai kertas gambar yang sejatinya ditujukan untuk diwarnai oleh anak-anak mereka?

di situ rupanya temanku tadi ingin menggarisbawahi pemandangan yang agak-agak rancu tersebut. lomba mewarna anak-anak, tapi yang terjun orang tua.



mungkin tadinya cuma satu orang tua yang ngebantuin anaknya, yang memang mungkin butuh bantuan, karena mungkin kurang pede, atau kurang gimana lah. eh, orang tua sebelahnya ngelirik, kok punya anak itu gambarnya bagusan dari anakku? oh, dia dibantuin orang tuanya. si orang tua inipun ngeliat hasil mewarnai anaknya, kok agak kurang rapi ya? ngga menang donk nanti.

si ortu inipun ikutan ngeberesin hasil kerja anaknya dan sedikit merapikan supaya ngga kalah sama hasil anak sebelah yang tadi dibantuin ortunya juga. begitu seterusnya, para orang tua yang tadinya cuma di sana untuk menyemangati anaknya jadi ikutan mewarnai dan ikutan berlomba semua!

ngga cuma di ajang perlombaan saja. sudah bukan rahasia lagi, seringkali orang tua di rumahpun demikian. niatnya ngebantuin anaknya ngerjain pr. eh, besoknya bukan anaknya lagi yang ngerjain, tapi ortunya semua. supaya apa? supaya benar semua dan dapat nilai bagus di sekolah.

anaknya yang dapet tugas prakarya, yang heboh dan sibuk ortunya. ini yang sekolah siapa sih sebenernya.

***

sampai sejauh mana seharusnya keterlibatan orang tua dalam membimbing, mengarahkan, dan membantu anak-anaknya untuk belajar? apakah contoh-contoh di atas itu termasuk wajar, normal, atau justru salah?

mari kita kembali ke konsep proses pembelajaran itu sendiri!

yang belajar siapa? si anak. belajar apapun itu harus melewati proses kan. proses ini bisa jangka pendek bisa jangka panjang. bisa satu-dua jam, bisa satu-dua dekade. bahkan ada proses belajar yang perlu waktu berpuluh-puluh tahun lamanya. di akhir proses, apa yang diperoleh? bisa nilai, bisa hadiah, bisa kepuasan, bisa pencapaian akan sesuatu.

manakah yang lebih penting, proses atau hasil akhir?


misalnya dalam lomba mewarnai. kalau para ortu akhirnya yang berlomba demi anaknya dapat piala, apakah si anak bisa bangga dengan pialanya? sementara kemampuan mewarnai si anak ya gitu-gitu saja karena orang tua sering merecoki proses pembelajaran si anak ketika mewarnai kertas gambarnya sendiri.

di rumah, ketika mengerjakan pr dari sekolah, apakah si anak akan bangga ketika memperoleh nilai tertinggi di kelas padahal ketika diminta menjelaskan hasil jawaban malah ngga ngerti karena bukan dia sendiri yang memecahkan persoalan-persoalan yang diberikan oleh gurunya.

hasil prakarya yang mendapat nilai terbaik karena dikerjakan oleh ortunya di rumah dengan segala modal uang dan kepiawaian mereka dalam berkreasi, apakah akan membuat si anak merasa bangga, mengklaim itu adalah hasil kreasinya sendiri, dan terpaksa berbohong pada teman-temannya demi sebuah kebanggaan semu?

***

proses belajar selain bertujuan untuk mencapai keberhasilan, juga mengasah kemampuan anak untuk belajar gagal dan bangkit dari kegagalan. namun jika ortu selalu memberikan 'bantal empuk' tiap kali anaknya terjatuh dan gagal dalam proses belajar, kapan si anak akan mengenal 'rasa sakit', lalu belajar untuk berani bangkit, dan belajar menjadi kuat?

jika para orang tua ngga bisa menahan diri melihat anaknya berproses, dan tangannya terlalu 'gatal' untuk selalu membantu, entah supaya si anak mendapatkan nilai yang terbaik, entah supaya si anak menjadi kebanggaan di mata saudara, teman, dan kerabat, kapan ia akan merasakan sendiri kebanggaan sejati atas hasil kreasinya yang ia kerjakan tanpa bantuan siapapun?

orang tua yang terlalu mencampuri proses belajar anak sebenarnya justru akan menjerumuskan si anak itu sendiri. katanya, anak yang ortunya sedikit-sedikit turun tangan akan tumbuh menjadi pribadi yang minder, ngga pede, karena dikit-dikit ia akan mengandalkan si ortu yang selalu siap sedia membantu.

seringkali ortu lupa, kita ngga akan bisa mendampingi anak kita terus-menerus. satu saat kita akan pergi selamanya, dan mereka harus mandiri, bisa memecahkan persoalan-persoalan hidupnya sendiri. jika anak jarang diberi ruang dan kesempatan untuk berproses, mengasah kemampuannya sendiri, bagaimana kelak ia akan berdiri di atas kakinya sendiri?

jawab: anak-anak gue, suka-suka gue donk ye, hehehe

#self_reminder

Monday, 17 July 2017

delapan delapan #01

itu bukan angka togel yah, hehe...

mau curhat nih pemirsa!

sekitaran dua bulan yang lalu, tiba-tiba aku dapet email dari mantan bosku (bapak-bapak paruh baya yang baik hati dan ngga sombong hehe), yang sekarang udah pindah kerja ke perusahaan lain setelah mengundurkan diri kira-kita dua setengah tahun yang lalu.

ih, tumbenan ngapain nih si mantan bos kontak-kontak segala. meski sebenernya kita emang masih suka ketemu rame-rame janjian juga sih kadang-kadang, makan siang bareng-bareng sama mantan kolega lainnya jaman dulu. namanya pernah kerja bareng-bareng kan udah kayak keluarga ya. rupanya si bos ngirim email cuma mau janjian pengin nelpon aku.

Monday, 10 July 2017

filosofi gulma

hari minggu...

tumben banget beberapa hari ini musim panas di inggris beneran panas. biasanya sih seringnya di-php-in sama musim dan cuaca di inggris. katanya udah masuk musim panas tapi masih perlu jaket kemana-mana kalo ngga mau gigi gemelutuk kedinginan, eh giliran katanya udah musim dingin tapi nungguin salju turun udah kayak nungguin si habib pulang dari luar negeri. deuh, merana pokoknya ngandalin musim di inggris itu pasti di-php :-p

yang tinggal di inggris pasti ngerti lah...

Monday, 3 July 2017

bedah rumah #4

nah, inilah postingan yang tadinya mau aku gabung jadi satu dengan kamar mandi dan toilet tapi akhirnya urung karena kepanjangan hehe. ya sutralah kupisah saja jadi postingan tersendiri di sini.

check this out! ruang tamu...

***

save the best for last, ruang tamu adalah ruangan terakhir yang kudekorasi dari seluruh ruangan di rumah baru. karena kupikir gampang lah, cuma ruang tamu aja apa susahnya.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...