Monday, 9 September 2019

mental ndoro

kali ini aku mau numpahin uneg-uneg aja ya gaes.

udah lama tulisan ini nongkrong di draft, mungkin udah waktunya buat dipublikasikan nih. cuma mau ngebahas sudut pandangku mengenai salah satu karakter manusia di antara seabrek karakter lainnya, yaitu tentang mental ndoro.

***

dari hasil pengamatanku, orang asia pada umumnya banyak yang bermental ndoro. cuma 'banyak' lho yaaaa, ngga semua! jangan baper dulu hehe. bagi yang ngga terlalu familiar dengan kata "ndoro" karena ini memang diambil dari kosakata bahasa jawa, kata padanan dalam bahasa indonesianya yang paling pas mungkin adalah "majikan".




mental ndoro ini aku definisikan sebagai seseorang yang punya mentalitas mendominasi, yang dengan mudahnya, gampangnya, entengnya, dan santainya bisa nyuruh-nyuruh orang lain untuk ngerjain sesuatu. apapun itu. kasih perintah ini itu, kasih instruksi ke si ini dan si itu. singkatnya, orang bermental ndoro itu punya bakat nyuruh-nyuruh orang lain lah. kalau kata orang bule, bossy!

emang salah? emang ngga boleh bermental bossy?

ya ngga juga. dan tentu boleh-boleh saja bermental bossy. tapi seperti halnya segala sesuatu itu ada sisi positif dan ada juga sisi negatifnya. sisi positifnya, orang-orang model begini kalo jabatan dan kerjaannya harus berhubungan dengan anak buah, mereka bisa jadi bos atau pemimpin yang baik. karena mereka sudah terlatih untuk nyuruh-nyuruh anak buah. sudah terlatih untuk jadi bos. sudah mahir jadi pemimpin. sudah bossy dari sononya.

sisi negatifnya, terkadang orang-orang bermental ndoro itu kurang empan papan, istilah jawanya. lupa tempat dan waktu. kadang ke-bossy-an-nya muncul di waktu dan tempat yang salah. tentu saja ada banyak juga yang ngga seperti itu. sekali lagi, jangan baper lho gaes:-p

***

aku contohin satu ya...

ini kilas balik pas jaman kuliahan di inggris sini. ada satu mantan teman kuliahku yang kebetulan orang asia (bukan orang indonesia tapi lho), terlahir di keluarga berada dan dari kecil dimanja dengan fasilitas asisten rumah tangga jadi jarang bahkan hampir ga pernah ngerjain kerjaan rumah tangga sendiri. tiba-tiba kami harus ikut karya wisata keluar kota dan nginep bareng.

karena cuci piring aja dia hampir ngga pernah, pas selesai makan, piring bekas makan dia ditinggal gitu aja donk di meja. mungkin karna buru-buru jadi dia langsung mau kabur aja selesai makan. kebiasaan di rumah memang begitu karena yang bagian beres-beres kan udah ada sendiri. nah, saat itu temanku itu dengan entengnya bilang ke teman lain yang beranjak mau cuci piring "cuciin piring gue donk sekalian". pake bahasa inggris tentunya ya.

untunglah temanku yang lain ini orangnya santai, jadi dia ngejawab "oke" aja. tapi bisa dibayangkan kalo yang disuruh nolak, bisa sambil bilang "emang gue siapa elo, enak aja nyuruh-nyuruh!". cuma waktu itu kami maklum aja sih dengan tingkah si teman ini. bossy-nya masih dalam batas wajar lah, blom ngelunjak banget-banget.

karena pada dasarnya dia sukanya emang cuma kasih instruksi aja, ngga suka ngerjain apa-apa sendiri. jadi kami kategorikan dia sebagai orang yang bermental ndoro.

masih dari hasil pengamatan...

orang-orang bermental ndoro ini karena saking udah terbiasanya nyuruh-nyuruh sejak kecil kali ya, mereka kadang lupa kalau mereka ga bisa gitu aja nyuruh-nyuruh semua orang. dan belum tentu juga orang yang mereka suruh mau ngerjain apa yang mereka instruksikan. bisa-bisa malah ngajak berantem karena yang disuruh merasa tersinggung ya kan.

kalau dah gitu namanya cari perkara 😜

yang bikin aku bertanya-tanya dalam hati nih, kenapa sepertinya mental ndoro ini tumbuh subur di asia ya? padahal kebanyakan negara asia itu kan negara jajahan kolonial, yang mana kita dulu justru yang bagian disuruh-suruh sama para bule yang ngejajah kita? mereka 'ndoro'nya, kita 'jongos'nya!

tapi kenapa jaman sekarang justru orang bule pada mandiri dalam hidup keseharian? ngga suka nyuruh-nyuruh dan jarang yang kutemui bermental ndoro seperti teman asiaku tadi?

hmmm...
mari kita kupas. eh, emang mangga, pake dikupas segala πŸ˜‚ #garing

***

menurut pemikiranku sendiri nih, yang lain boleh aja punya pendapat yang beda ya, bebas aja.

jawabannya mungkin karena wilayah asia adalah satu-satunya benua di dunia yang berpenduduk paling padat sehingga tenaga kerja relatif jauh lebih murah dibandingkan wilayah lain. karena tenaga kerja murah ini pulalah yang memicu terbuka lebarnya peluang kerja di lingkup domestik yang pada akhirnya melahirkan orang-orang bermental majikan itu tadi.

pada dasarnya bumi ini kan isinya cuma tiga kelompok (besar) ras manusia, gaes.

1) ras kulit putih (pucat)

bangsa eropa kuno yang bermigrasi juga ke benua amerika dan australia. mereka ini dulu-dulunya berasal dari daratan eropa meski akhirnya merambah dan menguasai hampir seluruh daratan amerika utara, amerika selatan dan benua australia. di era moderen sekarang ini, mereka mempunyai kecenderungan untuk hidup mandiri.



tapi ketika perbudakan masih legal pada jaman dulu, ras kulit putih hidup bak majikan dan mental ndoronya juga sangat dominan. budaknya sebagian besar adalah ras kulit hitam. pada era kolonialisme, ras kulit putih juga kental dengan mental ndoro. mental bangsa kelas satu, berderajat lebih tinggi, dan lebih segalanya dari bangsa yang dijajah.

tapi semakin ke sini di era abad ke-21 ini, justru ras kulit putihlah yang lebih dulu beranjak dan meninggalkan mentalitas ke-ndoro-ndoro-an nya. mereka bertransformasi menjadi ras yang lebih mandiri, kreatif, dan ringan tangan. apa-apa dikerjain sendiri.

terutama di negara-negara maju yang memang sebagian besar penghuninya boleh dibilang adalah ras kulit putih, ketika jenis pekerjaan asisten rumah tangga menjadi demikian langka dan mahal, bangsa kulit putih menjadi cekatan dan terampil dalam menyelesaikan pernik-pernik tugas rumah tangga sehari-hari.

2) ras kulit hitam (gelap) 

bangsa asli benua afrika atau kita lebih kenal dengan istilah orang negro (meski di amerika dan mungkin di eropa kata ini sudah tidak boleh digunakan karena alasan rasisme). dari sejarahnya, orang kulit hitam adalah bangsa-bangsa yang berasal dari benua afrika. karena kondisi alam dan geografinya yang rata-rata tandus dan keterbatasan sumber daya alam, kebanyakan dari mereka terbelakang secara ilmu pengetahuan dan miskin.

pada era perbudakan, karena minimnya lapangan kerja, banyak dari mereka yang merantau ke tanah-tanah baru di benua amerika dan dijual menjadi budak untuk kaum kulit putih. jadi dari sononya, orang kulit hitam dulu-dulunya adalah kaum pekerja keras.

entah di era internet sekarang ini apakah mereka yang tinggal di tanah afrika sana sudah berubah dari kaum pekerja keras yang bekerja demi gaji atau demi bertahan hidup (karena kalau budak membangkang akan dihukum atau disiksa) seperti jaman dulu, ataukah sekarang banyak yang berubah menjadi ras mandiri seperti halnya kaum kulit putih? sejujurnya aku ngga tahu sih. setahuku teman-temanku yang kulit hitam dan nyampai ke eropa, rata-rata juga bermental ndoro, mungkin karena kebanyakan dari kalangan kaum berada.

dari begitu banyak tempat yang pernah aku kunjungi, sekalipun aku belum pernah ke afrika.



tapi berdasarkan cerita salah satu teman yang asli kenya, beberapa kenalan orang afrika, dan cerita suamiku yang sering ke afrika selatan, kehidupan orang-orang afrika di luar wilayah konflik sudah sangat modern dan maju. tentu banyak dari mereka yang juga sudah jadi bos-bos, atau jadi ngerasa bossy.. pak obama yang bapaknya asli afrika saja sekarang jadi presiden.

3) ras kulit kuning/coklat/berwarna

termasuk bangsa timur tengah (arab), asia utara (cina/mongol), asia selatan (india/ srilanka/ pakistan/ bangladesh), deretan pasifik dari utara, ada jepang, korea, seluruh asia tenggara dan kepulauan pasifik termasuk kita, orang indonesia yang asalnya juga pendatang dari orang perahu yang bermigrasi dari asia utara (nanti kita bahas terpisah ya, bahwa kaum pribumi di kita itu sebenernya ya kaum pendatang juga, jadi jangan sok-sok-an 😈).

dibandingkan kaum kulit pucat dan kulit gelap, bangsa kulit berwarna ini lebih bervariasi. orang cina, korea, jepang mungkin mempunyai kemiripan dari segi warna kulit, tapi tetap berciri khas sendiri-sendiri. demikian juga bangsa india dan sepupu-sepupunya. orang pakistan akan tersinggung kalau dikira orang india dan sebaliknya. kita sebagai orang indoensia juga ngga mau kan dibilang orang malay? atau orang malaysia juga pasti ngga suka kalo dibilang indon 😜

***

meski secara tampilan sudah pasti sesama kulit berwarna, boleh jadi beda-beda. tapi ada kesamaan antara bangsa kulit berwarna dibandingkan kulit hitam atau putih. yaitu dari segi kepadatan jumlah penduduk!

kalau mau ditotal jendral, jumlah penduduk kategori nomor 3 sudah pasti terbanyak di dunia dibandingkan kategori satu atau dua. cina, india dan indonesia saja ada di urutan nomor 1,2, dan 4 di dunia. kalau ketiganya dijumlah, ya sudah pasti menang hehe. ini lomba apa sih ya 😏 #salfok

maksudku, dengan kepadatan penduduk yang seperti itu, tentu saja membuka kesempatan kerja seluas-luasnya di wilayah tersebut. karena tenaga kerja melimpah ruah. semua orang perlu makan, semua orang perlu kerja. tenaga manusia jadi murah meriah. makanya urusan rumah tangga biasanya disubkontrakkan ke orang lain. makanya di tengah-tengah masyarakat di berbagai wilayah asia yang penduduknya berlimpah ruah, banyak yang bermental majikan karena mereka rata-rata punya pembantu atau asisten rumah tangga.

tata kehidupan seperti ini pun akhirnya menumbuhkan manusia bermental ndoro seperti contoh di atas tadi. bener ngga nya analisaku ini, bolehlah kalian bikin skripsi yah. mudah-mudahan bisa di-acc dan lulus kuliahnya πŸ˜€

***

kalau aku pribadi, engga bisa bermental ndoro, karna emang sejak kecil ngga pernah punya pembantu, jadi ngga ada yang disuruh-suruh. kurang latihan. dan karena emang ngga pernah nyuruh-nyuruh orang, sampai sekarangpun semua masih ngerjain sendiri. ini sangat membantu hidup di luar negeri yang memang urusan rumah tangga musti dikerjain sendiri.

banyak juga sih orang indonesia yang tinggal di luar negeri ngeluh melulu karena mereka dari sononya ngga terbiasa mandiri. terbiasanya sejak kecil apa-apa diurusin. jadi pas harus mandiri sih penginnya mereka bisa bawa asisten dari indonesia ke inggris, tapi gajinya tetap pakai rupiah hihihi πŸ™ˆ



sisi negatifnya karena seumur hidup ngga pernah punya pembantu, adalah ketika aku harus jadi pemimpin di tempat kerja. seringkali aku kudu ngingetin diri sendiri terus menerus supaya bisa mendelegasikan tugas-tugas ke anak buah (yang sekarang jumlahnya udah ada 30 dan terus bertambah), ngga semua-mua musti kukerjain sendiri cuma karna ngga tega nyuruh-nyuruh orang lain.

sekarang udah mendingan sih, udah bisa agak-agak bossy juga lama-lama. yang pasti, asal masih dalam batasan normal dan wajar dalam hal nyuruh-nyuruhnya. ngga mentang-mentang dan ngga memperbudak anak buah. namanya sewenang-wenang di mana-mana kan ngga baik. balik lagi ntar ke jaman baheula ketika orang hitam diperbudak dengan sewenang-wenang dan tanpa berperikemanusiaan oleh orang kulit putih. amit-amit jangan sampai kembali ke sejarah masa lalu umat manusia yang cukup kelam itu.

semua manusia itu kan pada hakikatnya sama, dilahirkan setara, ngga peduli warna kulit. seharusnya ya seperti itu #ala_inces

tapi yang namanya mental ndoro, kalau ngga hati-hati dan empan papan, memang bisa saja dengan mudahnya menjadi sebuah bentuk kesewenang-wenangan. meski begitu, di inggris sini aku sebagai orang kulit berwarna malah bisa "memperbudak" alias nyuruh-nyuruh anak buah yang rata-rata orang kulit putih, kok ada rasa puas gitu ya, bisa "balas dendam" kalau ingat gimana bangsa kita menderita pas jaman kolonial dulu. ndoronya wong jowo, anak buahnya bule. 

gimana, udah oke kan gaes? πŸ˜…

No comments:

Post a comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...