Friday, 20 January 2012

jembatan

aku sedang asyik berdiskusi dengan rekan sekerja di kantor ketika tampak di layar monitorku sebuah email baru masuk dari suamiku. ia sangat jarang mengirim email, jika perlu sesuatu ia biasanya langsung telpon. kadang-kadang email yang dia kirim hanya berisi informasi seputar arus lalu lintas karena memang aku harus nyetir pulang pergi ke kantor yang membutuhkan hampir satu jam sekali jalan. jadi jika ada kemacetan di satu titik, ia pasti memberitahuku lewat email. akupun penasaran. kubuka email itu setelah aku permisi ke rekan kerjaku tadi untuk mengakiri diskusi karena kupikir ada hal penting karena suamiku mengirim email :-p

ternyata isinya hanya tautan ke sebuah situs berita milik skytv, sebuah perusahaan penyedia layanan tv kabel di inggris. di bawah tautan itu suamiku menulis sebuah pesan pendek, "pantesan anak-anak indonesia demikian pintar, mereka tidak pernah menyerah terhadap situasi apapun untuk pergi sekolah!"

awalnya aku kurang mengerti apa yang ia maksudkan sampai aku buka tautan itu dan melihat video rekaman berdurasi pendek yang memperlihatkan anak-anak sekolah di sebuah wilayah di daerah banten jawa barat yang beberapa waktu lalu terkena bencana banjir, meniti jembatan tua yang sudah ambruk. di bawahnya mengalir sungai yang arusnya menggelegak siap memangsa siapa saja yang kurang hati-hati dan bisa terpeleset setiap saat ketika menyeberang jembatan ambruk itu. hatiku miris ketika melihatnya, dan video inipun dilihat oleh dunia!


mereka hanyalah anak-anak sekolah biasa yang mungkin setiap pagi memang harus melintasi jembatan tersebut untuk menuju sekolah mereka di seberang sungai. sayangnya bencana banjir kali ini tanpa ampun telah merenggut satu-satunya akses yang anak-anak ini butuhkan untuk mencapai sekolah mereka, guna menuntut ilmu.

alih-alih ada larangan dari pemerintah setempat, agar jangan memakai jembatan ambruk ini karena sangat berbahaya dan bisa mengancam nyawa masyarakat yang memakainya. sudah bukan rahasia lagi kalau tanggapan pemerintah dalam mengatasi kondisi darurat akibat bencana alam memang terkenal lamban. sekalinya ada, pasti tak luput dari bumbu pencitraan dengan segala liputan wartawan, infotainment dan lambang partai.

hidup di luar negeri selama hampir 7 tahun ini mengajarkan aku akan betapa berharganya sebuah nyawa manusia di negara maju. di sini, sebuah nyawa terkadang harus diperjuangkan semaksimal mungkin dengan mengorbankan apapun tanpa memikirkan soal biaya. tim sar, komisi tanggap darurat bencana, pemadam kebakaran, dan polisi, terkadang harus bekerja siang malam untuk memastikan bahwa setiap nyawa di negeri pangeran charles ini terlindungi. tak jarang begitu ada sesuatu yang dinilai beresiko mengancam keselamatan warga, laranganpun dikeluarkan dengan segera, dan solusi alternatif segera disediakan, semua atas biaya negara.

seandainya jembatan ambruk di banten tadi ada di negeri inggris ini, sudah pasti akses ke sana akan langsung ditutup oleh pemerintah setempat, dan anak-anak malang itu akan diangkut ke seberang dengan alat transportasi lain semacam bis yang akan mengantarkan mereka ke sekolah melalui akses jembatan lain, tanpa harus melalui jembatan yang ambruk itu. bis itupun akan tetap tersedia gratis sampai jembatan yang ambruk itu diperbaiki dan berfungsi normal kembali.

ah, aku sepertinya cuma bermimpi.

indonesia kan bukan inggris. darimana biayanya? bagaimana koordinasi tanggap darurat bisa secepat dan sebagus kinerja orang-orang bule ini? memang sepertinya hanya berkhayal jika kita memimpikan kondisi yang sama seperti di negara maju. tapi bukankah lebih baik mencontoh yang sudah baik daripada hanya mengeluhkan yang masih buruk? dan jangan pernah lupa kalau indonesia itu negara besar. rakyatnya banyak, sumber daya alamnya melimpah. yang kurang hanyalah pemerataan kesejahteraan dan pembangunan.

seandainya...

pemasukan pajak sebagai sumber pendapatan negara dimaksimalkan, ruang gerak para pengemplang pajak dipersempit dengan penegakan hukum, tentu kita punya cukup uang untuk dana apa saja, terutama perbaikan sarana infrastruktur milik umum demi peningkatan taraf hidup, kesejahteraan dan menjamin keselamatan warga.

seandainya...

setiap pengerjaan proyek pembangunan jauh dari tangan para mafia-mafia penyunat dana proyek yang hidup bergelimang harta haram tapi tak sedikit yang bertitel 'h' di depan namanya, pasti kualitas infrastruktur di indonesia jauh lebih baik dan lebih tahan lama, serta ada cukup dana untuk pemeliharaan dan keamanan.

seandainya...

manusia tidak diciptakan sebagai makhluk yang rakus dan tamak untuk memperkaya diri demi peningkatan status sosial duniawi, pasti tidak ada korupsi, pungli, atau sogok sana sogok sini. meski sebenarnya di belahan dunia manapun, manusia tetaplah makhluk yang tamak, namun seharusnya jika hukum ditegakkan seadil-adilnya, ketamakan manusia bisa terbatasi. praktek korupsi, pungli dan sogok menyogok akan dipikirkan seribu kali jika tidak ingin berakhir dibui atau seperti di negeri china, dihukum mati.

ah...

lagi-lagi aku hanya bermimpi...

No comments:

Post a comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...