Wednesday, 14 September 2011

wheelie bin

versi yang sudah diedit dan diterbitkan oleh hijauku.com dapat diakses di sini:

versi orisinilnya:
Wheelie Bin: Kotak Sampah Beroda


Jadi begini saudara-saudara. Kemarin aku ditodong oleh pengasuh kolom ini untuk nulis artikel hijau. Masalahnya, aku ini orangnya super payah dalam hal menelorkan ide. 

Boro-boro artikel hijau, laporan kerjaan saja masih banyak menumpuk belum selesai-selesai. Untunglah bosku orangnya baik jadi dia jarang nagih laporan hehe. Lha bagaimana mau punya ide kalau pikiran lebih seringnya buntu dan macet (*nguap…). Sepertinya kepalaku memang perlu sedikit oli dan amplas supaya karatnya rontok dan bisa berpikir jernih lagi.
Tapi berkat bantuan ide dari luar angkasa (eh bukan dink, ide dari teman pengasuh itu), akhirnya aku bisa juga nulis sedikit pengetahuan mengenai gaya hidup ramah lingkungan di negeri orang. Lho, koq negeri orang? Iya, kebetulan d memang tinggal di negeri orang. Saat ini aku tinggal dan bekerja di Inggris. Tahu donk Inggris, negerinya Pangeran Charles ini memang terkenal banget. Bukan saja dari Liga Premiernya bagi para penggemar bola, tapi dalam banyak hal lain yang aku super duper yakin pastinya kalian sudah banyak yang tahu.
Oke, di sini aku akan bahas mengenai pengelolaan sampah di Inggris, terutama di daerah di mana aku tinggal saat ini. Sebagai warga Inggris (eh salah, aku masih WNI tulen koq, belum niat berganti warga negara, belummmm :-p), kami di sini hidup di bawah naungan pemerintahan lokal yang disebut Council

Ada City Council untuk kawasan perkotaan (semacam wali kota gitu deh kayaknya), ada Town Council untuk kawasan kota dengan ukuran yang lebih kecil (semacam kecamatan mungkin ya) dan ada juga Village Council atau Parish Council (semacam kelurahan, pak lurahnya bule donk bok, hehe). Banyak ya Council-nya. Beuh! Aku sendiri kadang-kadang juga bingung mengenai sistem pemerintahan di sini. Mending di Indonesia lebih jelas aturannya dari propinsi, kabupaten, kecamatan, kelurahan, RW dan RT.
Nah, di Inggris tiap-tiap rumah diwajibkan membayar pajak bumi dan bangunan juga, sama seperti di Indonesia, yang disebut Council Tax. Yang beda mungkin hanya jumlahnya ya, lebih mahal di sini pastinya (ya kan mata uangnya saja sudah beda, Pound sterling lawan Rupiah). 

Council Tax ini digunakan oleh pemerintah lokal setempat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan lokal semacam perbaikan jalan, pemberian layanan dan fasilitas umum, dan juga pengelolaan sampah. Konsepnya sebenarnya cukup sederhana. Dalam hal pengelolaan sampah, dari uang pajak yang kita bayarkan tiap bulan itu, oleh Council dibelanjakan. 

Salah satunya adalah untuk pengadaan wheelie bin, atau kalau diterjemahkan kurang lebih menjadi “tempat sampah beroda”. Disebut demikian karena memang ada rodanya, hingga mudah didorong ke mana-mana untuk memperingan pekerjaan. Kalau kalian susah membayangkan, kira-kira bentuknya seperti foto di bawah ini:

Gambar 1. Wheelie Bin : kotak sampah beroda berbagai ukuran, gambar dicomot dari sini:
http://www.wheeliebinsadelaide.com/wheelie-bins-sulo.php
Ukuran kotak sampah ini bermacam-macam, dari kecil untuk perumahan-perumahan yang agak padat agar menghemat tempat, sampai ukuran raksasa untuk sampah industri. Warnanyapun  beragam, tergantung aturan tiap daerah atau kota yang memakainya. Di rumahku, aku diberikan tiga buah wheelie bin ukuran sedang (seperti gambar 1 warna hijau) oleh Town Council di mana aku tinggal. 

Saat aku pindah ke rumahku sekarang, tanpa diminta mereka mengirimkan kotak sampah ini ke rumah dan meninggalkannya di depan pintu. Tiga-tiganya masih baru, gress. Satu berwarna hijau, satu berwarna coklat dan satu lagi biru tua. Di tutup masing-masing kotak sampah ini, tercetak tulisan dengan rapi apa-apa yang harus dimasukkan ke dalam kotak sampah yang mana, dan apa-apa yang tidak boleh.



Gambar 2. Kotak sampah ukuran besar untuk industri, gambar dicomot dari sini:
http://www.peakwaste.co.uk/editorials.asp?c=4&d=3
Di kotak sampah yang coklat, hanya boleh diisi sampah kebun semacam daun, akar, ranting, gulma, bunga, sampah organik dapur semacam kulit kupasan buah, sampah sayuran dll, dan juga kertas karton atau kardus bekas. Tapi abu sisa pembakaran sampah, kebun, sisa barbeque atau bakar sate tidak boleh dimasukkan ke kotak coklat ini.
Di kotak sampah yang biru tua, hanya boleh diisi botol-botol kemasan plastik yang sudah tidak terpakai, semacam botol susu, minuman jus, botol selai, botol minyak sayur, dll. Semua harus yang plastik saja. Di sini juga bisa dimasukkan majalah-majalah bekas, koran bekas dan brosur-brosur bekas yang tak terpakai. Pokoknya semua yang berbahan kertas.
Di kotak sampah yang hijau, boleh diisi apa saja selain yang harus masuk ke biru dan coklat, kecuali botol kaca. Semua sampah rumah tangga yang tidak boleh masuk ke coklat dan biru, harus masuk ke kotak hijau ini (kami menyebutnya kotak apa saja, mirip kantong ajaib si Doraemon lah ya). Jadi isi sampah dari kamar mandi, sampah dari meja riasku, sampah dapur yang non-organik, semua masuk ke wheelie bin yang warna hijau. 

Sementara botol-botol kaca bekas selai, sambal ABC, kecap Bango, dll (wuih, darimana ada sambal ABC dan kecap Bango di Inggris? Ada dehhhhh….) harus dikumpulkan terpisah untuk lalu dibawa ke tempat penampungan khusus yang biasa disediakan di jalan masuk supermarket-supermarket besar. Kami bawa botol-botol ini jika sekalian hendak pergi belanja.
Di dekat tempat penampungan botol bekas ini juga sering tersedia kotak raksasa untuk pembuangan sepatu bekas dan baju bekas. Hebat kan? Orang-orang di sini kadang aneh-aneh. Seringnya mereka membeli sesuatu tapi lupa memakainya, dan ketika ingat, sudah tidak berminat lagi. Lebih banyak baju-baju yang masih berlabel masuk ke tempat pembuangan ini, karena pemiliknya kehilangan minat untuk memakainya (meskipun masih baru!!! weleh weleh…). 

Demikian juga dengan sepatu, sering bernasib serupa. Tapi jangan pikir kalian bisa mengambilnya begitu saja ya, karena pembuangan sepatu dan baju ini didesain sedemikian rupa sehingga menjadi semacam kotak surat. Kalau kalian sudah memasukkan surat ke kotak surat, susah kan mengambilnya lagu? Sama halnya dengan kotak sepatu dan baju bekas ini. Yang sudah masuk, tidak bisa keluar lagi, kecuali si petugasnya membuka gembok raksasa dan mengeluarkan isinya.

Lalu diapakan baju dan sepatu ini nantinya? 

Ha! Di Inggris sini, ada yang namanya charity atau badan amal, mereka ada di mana-mana dan banyak sekali. Badan-badan amal ini resmi lho, terdaftar dan kegiatannya dipantau oleh pemerintah, jadi bukan main-main. Mereka inilah yang mengumpulkan sepatu dan baju bekas untuk akhirnya dijual lagi dengan harga super murah, dan uangnya digunakan untuk kegiatan amal. Toko-toko milik charity ini bertebaran hampir di tiap desa dan kota. 

Yang dijual adalah barang-barang bekas seperti sepatu, baju, mainan, alat dapur dan buku. Uniknya, di tiap buku yang dijual, ditempeli stiker berisi himbauan agar jika selesai membaca, mohon dikembalikan ke toko itu untuk dijual lagi. Jadi uang yang kita bayarkan sewaktu membeli buku itu jadi semacam uang sewa buku. Kalau aku sih seringnya buku dari toko charity kumasukkan ke rak buku untuk nambah koleksi. Dasar, kurang amal! Hehe…
Kembali ke soal sampah….
Bagaimana kalau kotak sampah kita sudah penuh? Ke mana sampah-sampah rumah tangga tadi dibawa pergi? Siapa yang mengambilnya? Di sini lagi-lagi peran Council sangat dibutuhkan. Dari uang pajak rumah yang kita bayarkan tiap bulan tadi, masing-masing Council di tiap wilayah masing-masing akan menyediakan mobil-mobil sampah yang berkeliling dari rumah ke rumah setiap satu minggu sekali untuk mengumpulkan sampah-sampah kita. 

Sampah dari kotak warna coklat dan biru akan dikirimkan ke perusahaan daur ulang. Sampah organik dari kotak coklat akan diproses menjadi kompos, produk untuk berkebun dan semacamnya, sedangkan sampah dari kotak biru yang berisi kertas dan plastik akan diolah lagi menjadi produk-produk daur ulang yang berbahan kertas dan plastik.

Gambar 4. Pasukan pengelola sampah, gambar dicomot dari sini:
http://www.cambsfire.gov.uk/news/Archive/3130.php
Nah! Karena isinya tidak memenuhi persyaratan daur ulang, sampah dari kotak yang berwarna hijau akan dikirimkan ke tempat pembuangan sampah atau disebut landfill setempat yang dikelola dengan cukup baik agar proses pembusukan sampahnya tidak mencemari air tanah dan udara sekitar. Sebagian lagi dikirimkan ke sebuah tempat bernama incinerator atau tempat pembakaran sampah untuk dimusnahkan dengan cara dibakar.
Incinerator ini diperlukan untuk membantu mengurangi volume sampah yang terus menggunung di landfill. Karena proses pembusukan sampah juga memerlukan waktu cukup lama, kadang-kadang keterbatasan lahan landfill mengharuskan sebagian volume sampah harus dibakar. 

Incinerator dikelola sedemikian rupa agar panas dari pembakaran bisa dimanfaatkan dan didaur ulang untuk sumber energi atau pemanas, sedangkan gas buang dari cerobongnya diolah terlebih dahulu agar kandungan bahan-bahan berbahaya yang bisa mencemari udara bisa ditekan sekecil-kecilnya atau dihilangkan sama sekali. Hal ini juga sudah diatur dengan ketat oleh Uni Eropa dan semua negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa wajib mematuhinya.

Gambar 5. Incinerator atau tempat pembakaran sampah, gambar dicomot dari sini:
http://www.klwin.com/
Oh ya, bagaimana kalau kita harus membersihkan rumah dan ingin membuang beberapa perkakas rumah tangga seperti meja, kursi, sepeda atau daun pintu? (ada lho yang membuang daun pintu, jadi jangan heran ya hehe). Bagaimana kalau kita membersihkan kebun dan menebang pohon? Ke mana sampah-sampah yang ukurannya besar ini harus dibuang karena tentu saja tidak akan muat dimasukkan ke dalam kotak sampah yang kita punya di rumah?
Jawabannya, sampah-sampah berukuran besar tersebut harus dibuang ke tempat pembuangan sampah terdekat. Kalau bayangan kalian tempat pembuangan sampah (TPS) ini adalah tanah luas seperti di daerah Bekasi yang baunya bisa tercium dari jarak puluhan kilometer itu, dan di mana kehidupan para pemulung barang bekas terpusatkan, kalian salah besar. 

Tempat pembuangan sampah di sini (atau biasa disebut recycling centre atau the tip), ukurannya tidak terlalu besar. Biasanya tempat ini punya gerbang yang bisa dibuka tutup dan dikunci di malam hari, dan jalan  masuknya teraspal rapi supaya bisa diakses oleh mobil yang keluar masuk membawa barang-barang buangan.
Lho, apa bedanya dengan landfill tadi? Tentu saja beda. Kalau landfill digunakan sebagai tempat pembuangan akhir (TPA) untuk sampah-sampah yang tidak bisa didaur ulang lagi, TPS yang aku maksudkan di sini dipakai untuk mengumpulkan sampah-sampah berukuran besar yang tidak bisa diambil oleh mobil pengangkut sampah biasa. 

Itulah bedanya. 

Untuk ke sini, orang yang ingin membuang sampah harus membawa mobil sendiri (ya iyalah, kan nggak mungkin gotong-gotong daun pintu jalan kaki  :-D). Di dalam recycling centre ini ada beberapa petugas yang kerjanya memberi petunjuk ke mana para pengendara mobil yang penuh barang-barang buangan ini harus memarkir  mobilnya dan jenis sampah apa harus masuk ke kotak yang mana. Coba lihat gambar di bawah ini. Jelas ‘kan?

Gambar 6. Recycling Centre atau tip, gambar dicomot dari sini:
http://www.dublinwaste.ie/Recycling-Centres.html

Tiap-tiap jenis sampah yang berbeda-beda harus dimasukkan ke dalam kotak-kotak besi raksasa (yang disebut Skip), yang masing-masing sudah dilabeli untuk diisi jenis sampah tertentu. Contohnya, sampah dari kebun seperti tebangan pohon, atau kotak yang lain ditujukan sebagai tempat buangan sampah mesin seperti sepeda bekas, mesin cuci rusak, dsb.
Dengan sistem pengelolaan sampah seperti ini, semua rumah dan industri berkewajiban untuk melakukan pemisahan sampah sejak kita memakai produk-produk yang kita konsumsi sehari-hari. Pemisahan sampah oleh konsumen pemakai produk di tahap awal, sangat membantu mengurangi biaya sortir. 

Bayangkan jika seluruh sampah tersebut dicampur aduk menjadi satu dan dibuang bersama-sama. Alangkah sayangnya. Sampah yang harusnya bisa didaur ulang bercampur dengan sampah lain, berakhir di TPA dan tidak bisa dimanfaatkan lagi. Jikalau hendak didaur ulang, proses pemisahannya juga akan membutuhkan tenaga dan waktu yang cukup lama.
O ya satu lagi, di Inggris kami tidak diperbolehkan untuk membuang sampah dengan cara menimbunnya di dalam tanah, atau membakarnya di kebun belakang rumah. 

Selain untuk menghindari pencemaran tanah dan air tanah, juga asap pembakaran akan mencemari udara. Seluruh pengelolaan sampah di negara Inggris dilakukan oleh pemerintah, dan pemisahan sampah sejak di rumah menjadi kewajiban setiap warga. Hal ini mudah dilakukan karena sudah menjadi kebiasaan hidup sehari-hari dan menjadi tradisi. 

Kita akan otomatis memisahkan sampah menurut jenisnya setiap hari dan setiap saat, tanpa menyadarinya. Selanjutnya adalah tugas pemerintah untuk mengambil, mengolah dan melakukan pembuangan sampah dengan pertanggungjawaban yang tinggi terhadap kesehatan, lingkungan dan alam sekitar. Undang-undang kesehatan dan lingkungan yang sudah diregulasi oleh negara dan Uni Eropa juga harus dipatuhi.
Apakah hal ini bisa juga dilakukan di Indonesia? 

Jawabnya tentu saja bisa (merdeka !). Asalkan pemerintah dan masyarakat berperan aktif untuk membangun kebiasaan ini bersama-sama, dan ini bukanlah hal yang mudah. Di satu sisi karena pengelolaan sampah akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, di sini lain masyarakat masih perlu bimbingan dan penyuluhan terus menerus mengenai kesadaran hidup bersih dan cara mengelola sampah yang benar dan ramah lingkungan.
Tapi kita tak harus menunggu. Tentunya kita tidak perlu pula mencontoh persis apa yang dilakukan negara lain di luar negeri. Karena pastinya ada beberapa hal yang bisa mulai dilakukan di Indonesia untuk saat ini, yang bisa kita mulai dari diri sendiri. Beberapa di antaranya adalah (serius lho ini….baca baik-baik ya):
1)      Pilihkan produk-produk yang tidak terlalu banyak atau besar kemasannya, ini akan mengurangi volume sampah rumah tangga kita sendiri.

2)      Ide ini muncul dari cerita adikku yang tinggal di Cinere, kalian mungkin bisa menirunya. Pisahkan sampah plastik yang bisa didaur ulang dengan sampah organik yang ujung-ujungnya akan dibuang ke TPA. Berikan sampah plastik ini ke pemulung yang sering singgah di perumahan-perumahan, atau letakkan sampah plastik ini terpisah sehingga para pemulung tidak perlu mengorek-ngorek bak sampah kalian untuk mencari plastik-plastik bekas. Selain memudahkan kerja si pemulung, kalian juga sudah menyelamatkan beberapa bahan plastik yang jika tercampur dengan sampah lainnya akan dibuang begitu saja ke TPA.

3)      Pisahkan produk-produk kertas seperti majalah bekas, koran bekas, buku bekas, dan bawa ke tempat pengumpulan kertas di dekat rumah kalian. Atau biasanya sering ada yang berkeliling mencari koran bekas untuk dibeli. Selain membantu lingkungan, kalian juga bisa menambah uang saku atau uang belanja dapur dari menjual kertas atau karton bekas ini.

4)      Pisahkan sampah organik dari kebun dan dapur yang bisa terurai. Buat tempat penampungan kompos di belakang rumah dan sering-seringlah mengaduk-aduk kompos kalian. Jika pemilahannya benar dan seluruhnya adalah sampah organik, tidak akan tercium bau tak sedap dari kotak kompos.

5)      Pisahkan sampah botol kaca. Lakukan hal yang sama dengan sampah kertas di atas. Bisa menambah uang saku atau uang belanja.

6)      Lipat dan bawa kantong belanja sendiri ke mana-mana. Jadi tidak perlu mengkonsumsi kantong plastik setiap kali membeli sesuatu. Pastikan kantong belanja kalian penuh sebelum memakai kantong berikutnya. Manfaatkan kantong belanja seefisien mungkin. Ini akan mengurangi sampah plastik yang bertebaran di TPA.

7)      Jangan terlalu konsumtif. Manfaatkan barang-barang lama untuk dipakai ulang. Selain menghemat uang, juga membantu mengurangi konsumsi. Wujudkan kreasimu sendiri untuk mendaur ulang barang-barang bekas di rumah kalian agar bisa dimanfaatkan lagi.

8)      Jangan buang sampah sembarangan. Simpan sampah-sampah yang kalian hasilkan dari konsumsi diri kalian sendiri, masukkan ke dalam kantung celana atau tas jika perlu, hingga kalian sampai di rumah dan bisa memilah sampah tersebut. Ingat, membuang satu sampah botol plastik minuman kemasan di kotak sampah pinggir jalan, hanya akan menambah satu sampah botol plastik yang sulit terurai di TPA!

9)      Jangan pernah berhenti berbagi ilmu dengan teman, keluarga dan tetangga sekitar. Jadikan Indonesia, di mana rumah kalian berdiri dan di mana kalian hirup udaranya setiap hari, menjadi lebih bersih.

10)   Last but not least, berbuatlah sesuatu yang nyata, mulailah dari diri sendiri. Eh…koq jadi Aa Gym ya :-p

Cambridge, 14 Sept 2011, 12.09pm UK time

No comments:

Post a comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...