tulisan ini bakalan serius, mungkin rada sedih juga. sedih mungkin bukan kata yang tepat sih, tapi prihatin aja deh. kok malah kayak pak esbeye yang selalu bilang prihatin π
ide tulisan ini sendiri bukan datang dari pengalaman pribadi, tapi asalnya dari postingan orang lain di thread, yang setelah kubaca-baca komen-komennya, ternyata topik ini cukup menggelitik dan menarik untuk dibahas. makanya aku lalu kepikiran untuk kujadikan bahan tulisan di blog ini karena sedikit banyak, dan sebagai seorang diaspora, topik ini relevan juga.
kenapa judulnya sapi perah?