rumah besar itu berpagar tinggi, dikelilingi pohon-pohon berkayu, dan pintu pagar yang terbuat dari kayu bercat coklat tua, dengan pegangan pintu besar terbuat dari besi. itulah rumah si tasya. dari tepi jalan, rumah besar itu sama sekali tidak kelihatan. turun dari angkot, aku masih harus melewati semacam gang yang di kiri kanannya adalah rumah-rumah tetangga tasya yang menghadap ke jalan raya. gang ini hanya selebar satu mobil saja, agak panjang kira-kira 100 meter-an, dan berakhir di pintu pagar bercat coklat tua tadi.
orang takkan pernah mengira kalau di balik pintu pagar itu berdiri sebuah rumah yang cukup mewah untuk ukuran daerah itu, yang rata-rata penduduknya memang termasuk kelas sosial menengah ke bawah. jalan raya arah cirendeu menuju pondok cabe di mana angkot yang sering aku tumpangi lewat, memang dipenuhi bangunan rumah kecil-kecil di sepanjang jalan, yang jauh dari kesan mewah. beberapa memanfaatkan ruang tamu rumah mereka untuk berjualan barang-barang kelontong, yang pastinya tidak memberikan penghasilan yang berarti bagi pemilik toko-toko kecil itu. lebih untuk menyambung kebutuhan hidup sehari-hari daripada berkesan bisnis yang menguntungkan.