Monday, 18 April 2011

andrea hirata 1

"mbak, mau dibawain apa dari indo?" tanya adikku sebulan sebelum dia berkunjung ke sini.

wah dibawain apa ya enaknya? di UK semua sudah ada kecuali kencur dan kunci yang sudah kupesan dari ibuku untuk dimasukkan ke kopernya jauh-jauh hari yang lalu, termasuk sepasang cobek dan ulekan batu!

itu yang tak kutemukan di sini. selebihnya, semua ada. sebut saja kangkung, pare, petis, tempe, pete-jengkol yang aku tak pernah doyan jadi tak pernah kelabakan mencari, sampai sambel abc dan kecap manispun ada. dunia sudah demikian akut era globalisasinya, jadi barang dari ujung dunia manapun dengan mudah dan murahnya bisa dijual dan tersedia di belahan dunia lainnya. akupun bingung, mau titip apa ya?

setelah lama kupikir-pikir, akhirnya kutemukan juga barang-barang yang kuperlukan tapi tidak tersedia di sini. ya, buku-buku berbahasa indonesia! selama lima tahun menetap di sini, rak bukuku yang menjulang tinggi sampai ke langit-langit ruang perpustakaanku memang hanya terisi buku-buku berbahasa inggris yang selalu rajin kubeli dari amazon dan dikirimkan lewat pos.

ada sedikit buku-buku berbahasa indonesia yang dulu kubawa dari tanah air sewaktu aku meninggalkan negeri dan semuanya sudah tamat kubaca. selainnya itu tak ada lagi.

source

hingga bulan lalu, akhirnya adikku datang dan kopernya penuh membawa oleh-oleh puluhan buku berbahasa indonesia, bukan main aku senangnya. dari berbagai buku itu, yang kuambil dan kubaca pertama adalah 'laskar pelangi', sebuah buku novel berdasar kisah nyata yang sejak lama ingin kubaca. telah banyak kudengar dari saudara-saudaraku yang tinggal di tanah air kalau jalan cerita di buku karangan andrea ini sangat mirip kisahnya dengan jalan hidupku, katanya. hingga akupun penasaran dibuatnya. 

karena rangkaian cerita ini dikemas dalam bentuk tetralogi, akupun dibelikan sekaligus empat-empatnya.

membaca buku pertama, aku dibuat takjub dengan aliran cerita yang menghentak-hentak, pilihan kata-kata yang sarat makna, bahasanya yang cerdas tapi menyenangkan dan kadang-kadang membuatku tertawa. aku terpikat oleh buku andrea hirata. hingga buku pertamanya pun kulahap dalam tempo sekejap saja. asal tahu para pembaca, buku ketujuh harry potter yang setebal 700 halaman lebih itu kulahap dalam tempo dua hari, berbahasa inggris pula. jadi buku andrea yang terbilang 'tipis' ini ditanganku takkan mungkinlah bertahan lama.

lanjut ke buku kedua yang berjudul 'sang pemimpi', baru aku menyadari setelah membaca beberapa episode kisahnya, akan arti kata-kata yang dilontarkan kakak dan adikku tempo hari. kisah kami memang mirip meski tak persis sama. mungkin bedanya, perjuangan si ikal untuk mendapatkan pendidikan dan beasiswa ke eropa yang ia cita-citakan, masih jauh jauh jauh lebih keras dan sulit dibandingkan perjuanganku yang kalau kini kulihat lagi relatif tak seberapa tingkat kesukarannya.

akupun berjuang untuk bersekolah tapi minimal orang tuaku masih mampu membiayaiku sampai bangku sma. akupun berjuang untuk kuliah sarjana tapi aku termasuk cukup beruntung karena mendapatkan beasiswa dan tak harus naik atap kereta. akupun berjuang untuk melanjutkan pendidikanku ke eropa tapi tak harus bekerja keras menyortir surat sejak subuh dan digaji tak seberapa.

membaca buku-buku andrea ini aku seperti bercermin pada diriku sendiri. kemiripan kisah ikal dan kisahku sangatlah mengejutkan. bahkan kehancuran kisah cintanya dengan a-ling pun tercermin dalam kisah cinta pertamaku dengan pria tionghoa yang juga kandas menyisakan luka tak terperikan. tapi kepahitan hidup kadang kala memang justru membawa kisah-kisah jenaka, yang mampu membuat kita tertawa hingga kita mampu bertahan untuk melewati rintangan berikutnya.

ayah ikal dan ayahkupun digambarkan sebagai sosok yang sangat mirip dan tak jauh berbeda. aku menulis tentang ayahku jauh sebelum aku membaca buku-buku andrea, dan kini kusadari ternyata memang banyak kemiripan antara ayahku dan ayahnya. mungkin hanya kebetulan saja, tapi di buku 'sang pemimpi' di bagian di mana sang ayah pulang dari mengambil rapor dan ikal berlari menyusulnya untuk menyatakan penyesalannya, aku tak kuasa lagi menahan air mata. begitu mengharukan kisahnya, trenyuh dan perih hatiku dibuatnya.

kini masih ada buku ketiga dan keempat yang harus kubaca. buku ketiga sangat menarik karena desa edensor hanya berjarak kira-kira dua jam perjalanan bermobil dari rumahku. banyak teman-temanku yang menyuruhku ke sana karena buku andrea ini berkisah tentang desa itu. tapi aku tak akan mengunjungi desa itu sebelum aku membaca bukunya.

jadi tunggu saja di tulisanku selanjutnya, cerita tentang desa edensor di buku dan di kisah nyata setelah aku berkunjung ke sana!

No comments:

Post a comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...