judulnya engga buanget dah ah π
eits, bukan aku itu yang bikin. netijen yang budiman yang bilang gitu. karena kesannya catchy, trus kujadiin judul deh.
setelah rame-rame viral soal beasiswa lpdp kemarin-kemarin itu, pembahasan di internet belakangan ini kok lebih menyoroti orang-orang indonesia yang tinggal di luar negeri ya. adaaaa aja yang dibahas. dari yang penipu trus ketipu dan mau kutulis di postingan kali ini. trus banyak yang pada sibuk berburu para penerima beasiswa pemerintah tapi masih nyangkut di luar negeri belum balik-balik buat memenuhi kewajiban 2n+1 yang viral itu, ada juga yang lalu pada menyoroti kontribusi para penerima yang sepertinya pada disangsikan sama netijen, sampe ada juga yang komplain kenapa para penerima beasiswa ini kok malah orang-orang yang sebenernya mungkin ngga butuh-butuh banget ya.
udahan yuk, udah bosen lah mbahas beasiswa yang entu. ganti topik!
kali ini masih seputaran wni wna, tapi aku mau ngebahas soal diaspora yang sudah ganti paspor ya. ceritanya nih, ada seorang diaspora yang udah jadi wna. tapi lalu doi pengin beli properti di indonesia. apakah bisa? ya engga bisa lah, kan statusnya sudah bukan wni lagi. dan salah satu upaya pemerintah untuk melindungi kepemilikan properti di indonesia, engga boleh ada wna yang bisa punya properti dengan status hak milik atau shm. bayangkan kalau wna bisa beli properti di indonesia? bisa abis atuh tanah dan bangunan dibeli orang asing semua karena daya beli mereka jauh lebih tinggi karena memang beda gdp atau pendapatan per kapita.
makanya wna engga diperbolehkan memiliki properti di tanah air.
bolehnya cuma beli dengan status hgb atau hak guna bangunan doank yang biasanya berupa rumah susun atau apartemen, dan dia harus tinggal di situ jadi dia kudu berijin tinggal jangka panjang, ngga boleh disewakan. batasan luas properti dan harganya juga ngga boleh melebihi angka tertentu tergantung wilayah di mana properti itu berada. banyak lah pokoknya batasan-batasannya!
gimana kalau wna-nya adalah bekas wni? yaitu para diaspora yang karena sesuatu dan lain hal memutuskan untuk ganti paspor ke paspor asing, yang otomatis menukar status wni-nya? ya tetap saja ngga bisa beli properti. simpel saja, begitu mereka memutuskan untuk jadi wna, ya semua akses wni-nya hangus, termasuk urusan kepemilikan properti. sulit banget lho, bagi wna untuk mempunyai akses dan hak-hak yang didapat sebagai wni. memang kebijakannya dibuat seperti itu untuk melindungi rakyat karena gdp kita yang relatif rendah. jadi sebenernya jadi wni itu juga sebuah privilege! makanya kadang heran sama yang ganti paspor hehe π
nah, dari sini biasanya para mantan wni ini engga kehabisan akal.
karena niat beli propertinya memang sudah bulat, yang paling gampang diakali sebenernya ya pake nama orang lain. dan itulah yang banyak terjadi. masalahnya lalu adalah, apakah si nama yang dipake ini amanah orangnya? kalau iya ya syukur. namanya dipinjam lah istilahnya untuk kepentingan pembelian properti. jadi seolah-olah jadi pemilik, tapi yang mbayar duitnya dari si mantan diaspora yang udah wna ini. mungkin praktik seperti ini sudah jadi rahasia umum. dan mungkin jumlahnya juga sangat banyak di sekeliling kita.
tapi lalu ketika ada kejadian di mana si pemilik properti yang cuma dipinjem namanya ini tergoda, jadi ngga amanah, di sinilah persoalan hukum muncul. karena secara hukum sah, si pemilik ya yang namanya tercantum di sertifikat. meski bukan dia tadinya yang mbayar pas akad jual beli. karena sumber keuangan pembelian properti, tanah dan sejenisnya di indonesia sepertinya memang engga ada pengecekan, jadi praktik "penipuan" kepemilikan sudah jadi hal yang wajar dan dinormalkan.
para koruptor juga pake siasat serupa kok.
buat ngumpetin harta colongan hasil korupsinya, biasanya duitnya dicuci dengan dibelikan properti berupa tanah dan bangunan. karena kalau kepemilikan atas nama si koruptor akan mudah terendus pihak-pihak lain yang berwenang seperti dinas pajak atau kpk, makanya lalu mereka pake nama orang lain sebagai modus. bahkan ada lho yang namanya dipake tapi ngga tahu menahu.
kecurangan-kecurangan seperti ini memang sangat mudah terjadi di indonesia karena sistemnya bolong-bolong. engga ada cek ricek, engga ada sangsi hukum yang tegas dan seterusnya. tau sama tau lah pokoknya kita π
coba di inggris sini, ngga bakalan bisa begitu. beli apapun yang duitnya dalam jumlah besar, sumber keuangannya diaudit dulu. semua data keuangan kita dicek. asal usul pembayaran juga dicek. kepemilikan juga ngga bisa dioper-oper gitu aja, apalagi sampe pake nama atau pinjem nama orang lain. kalau jago, duti banyak dan tau celah serta siap dituntut mungkin masih bisa sih, siap pengacara. tapi kalau level orang awam dan orang biasa kayak kita, engga bakal bisa ngejebol sistem kepemilikan properti di inggris sini saking ketatnya.
coba di indonesia dibikin gitu, kira-kira butuh berapa kali ganti presiden ya?
cerita yang lagi seru di internet dan dibahas sama netijen ya ngga beda jauh. si mantan diaspora yang coba ngakali sistem dengan pake nama orang lain ini akhirnya kena batunya. gara-gara si orang yang dipake namanya diam-diam ngejual properti tersebut! ketipu deh. apakah salah? ya engga sih, kan secara hukum memang dia pemilik sahnya. jadi bisa donk ngejual kapan aja. secara moral memang salah karena perjanjiannya kan cuma pake nama doank, kenapa malah ngejual?
sayangnya perjanjian seperti ini lemah di mata hukum.
karena kan memang dari awal sudah melanggar, dengan makai nama orang lain untuk bisa beli properti di indonesia meski statusnya sudah bukan lagi wni. meski maksudnya bukan untuk menipu, tapi yang dia tipu adalah sistem. ngakalin sistem ya sama aja penipu lah. kalau udah mantab pengin pindah warga negara ya kudunya konsekuen dengan segala embal-embelnya. tapi kalau tetep masih mau punya properti di indonesia ya kudunya tetep pegang paspor ijo alias tetep wni.
meski alasanku untuk tetap berpaspor ijo bukan karena pengin beli properti di indonesia sih. tapi karena alasan-alasan yang sudah pernah kubahas di sini. karena ganti paspor itu engga cuma supaya bisa jalan-jalan tanpa visa doank! ganti paspor itu urusannya panjang. dan sejauh ini, aku masih tetap nyaman pegang paspor ijoku. ngga papa kok aku aja yang tetap wni, yang lain boleh jadi wna π
tapi kalau udah wna jangan pengin beli properti di indonesia ya.

No comments:
Post a Comment