Friday, 28 April 2017

minyak tanah

sebenernya aku udah punya banyak foto-foto buat bahan postingan bedah rumah seri berikutnya, tapi kenapa malah pengin nulis tentang minyak tanah ya.

tahu kan pembaca, apa minyak tanah itu? kalo ada yang ngga tau berarti sejak lahir mamanya masak di dapurnya udah pake gas! horang kaya tuh, hihi. minyak tanah atau kerosin, adalah produk hasil olahan minyak bumi. kalo pengin tahu ngolahnya gimana, google aja yah. dijelasin di sini kelamaan ntar bacanya.

dulu pas aku masih tinggal di rumah nenek, keluarga kami masaknya masih pake kayu bakar lho. beneran yang tiap saat kudu beli kayu gelondongan yang udah dipotong-potong gitu, buat dibakar di dapur yang atapnya masih genteng tanpa langit-langit eternit. jadi kalo masak asap dapur dari tungku bakarnya ngepul putih keluar dari sela-sela genteng ke udara gitu. keren kan? horang syusyahhhh :-p

tungku kayu bakar, ilustrasi 'minjem' dari sini

nah, pas akhirnya keluarga kami pindah ke perumahan (aku masih kelas 4 sd waktu itu), urusan masak-memasak di dapur jadi agak modern sedikit. mana ada perumahan yang masaknya pake kayu bakar ya kan? eit, tunggu dulu.

meski setelah pindah ke perumahan ibuku masaknya udah pake kompor minyak tanah, ngga lama ketika ibu lalu buka warung makan dan kemampuan kompor minyak ngga lagi mencukupi karena kudu masak berporsi-porsi untuk dijual, akhirnya dibuat juga lho, tungku bakar di halaman belakang yang akhirnya jadi dapur semi-permanen beratap genteng tapi ngga pake pintu, kayak semacam gubug gitu lah, gentengnya tanah liat, dindingnya anyaman bambu.

keren pokoknya rumahku jaman dulu, ada tungku kayu bakarnya :-D

dapur semi-permanen inilah yang akhirnya jadi dapur utama untuk memasak segala rupa masakan untuk dijual lagi di warung sama ibu. semacam warteg gitu deh, cuma ya menunya ala-ala masakan lokal aja, ngga kayak warteg beneran. sayur tahu, sayur asem-asem, gorengan, pecel, telur dadar, tahu-tempe goreng, opor ayam, sambal goreng, dll. kebanyakan masakan jawa yang sudah ngga asing lagi di lidah orang-orang sekitar kami tinggal. pelanggannya rata-rata anak sekolah, anak kos, dan karyawan kos.

tapi meski kami punya tungku kayu bakar, kompor minyak tanah di dapur bukannya berkurang, tapi malah bertambah banyak jumlahnya. berbagai ukuran. namanya juga dapur warteg yah, perlu masak banyak, ya perlu kompor banyak. kalo kompor modern berbahan bakar gas jaman sekarang kan satu kompor ring-nya ada dua. apalagi di eropa sini, satu kompor bisa sampe 5-6 ring. coba dulu ibu punya kompor eropa yah, ngga usah repot punya banyak kompor minyak tanah dan ngga usah repot bikin tungku bakar.

halah, jauh banget ngayalnya...

berbagai jenis kompor, 'minjem' dari sini

eniwei busway, karena kami waktu itu juga punya toko, eh warung di depan rumah, kebutuhan minyak tanah untuk masak sehari-hari ya ngambil aja dari warung sendiri. karena selain jual kebutuhan sehari-hari (orang nyebutnya toko kelontong), warung kami juga jualan minyak tanah.

awal-awalnya pas masih punya modal (kayaknya bapak dulu minjem sejumlah uang dari koperasi kantor apa gimana gitu), minyak tanah yang kami jual di warung disuplai oleh mobil tangki minyak. bahkan di depan rumah dulu berderet tong-tong minyak tanah yang siap diisi ulang oleh mobil tangki tersebut tiap kali isinya mulai menyusut atau habis terjual.

masa-masa kejayaan hehe.

para pembeli yang notabene adalah para tetangga di komplek perumahan, biasanya ke warung untuk beli minyak tanah pake jerigen (asal kata: jerry can). tahu  kan wadah plastik warna-warni itu. ada yang ukuran kecil dari yang cuma muat dua liter saja, sampe yang agak gede ukuran 10 liter, 20, 30 dst.
 
jerigen berbagai macam ukuran, sumber dari sini

cara jualannya, minyak tanah dari tong dipompa keluar (pake pompa puter) ke wadah raksasa yang terbuat dari tong juga, tapi udah dipotong separo (kayak tempat penampungan minyak sementara gitu). dari situ, kalo ada orang yang beli minyak, kami tinggal takar per liter. dengan bantuan corong, minyaknya dituang ke dalam jerigen. takaran terkecil kalo nggak salah setengah liter, lalu ada yang 1 liter dan paling gede 2 liter.

setelah lewat masa kejayaan, karena saingan warung jadi nambah banyak sementara jumlah penghuni perumahan ngga nambah, akhirnya pembeli jadi berkurang deh.

tong-tong minyak di depan rumah kami mulai kosong dan mobil tangki minyak mulai jarang datang. kami tak lagi mampu beli minyak dalam satuan tong. untuk mencukupi kebutuhan pembeli yang tak seberapa jumlahnya, bapak lalu mulai membeli (kulakan) minyak tanah dari toko yang lebih besar di pasar kota, untuk dijual lagi di rumah.

gimana ngebawanya ya? pake jirigen yang kapasitasnya gede (40-50 liter), lalu bawanya pake karung yang diselempangkan di belakang sepeda motor. beli minyak pake karung? gimana caranya tuh hehe.

ilustrasi

foto di atas adalah ilustrasi gimana bapakku dulu bisa bawa-bawa minyak tanah dari pasar pake motor untuk dijual lagi di rumah. satu jerigen kapasitas 50 liter (kalo ngga salah ingat) ditaruh di sebelah kiri, satu jirigen lagi di sebelah kanan. atau kalo nggak, bawa satu jerigen saja, sebelahnya diimbangi dengan beberapa jenis belanjaan kelontong lain untuk dijual lagi di warung.

entah berapa harga minyak tanah per liter di indonesia sekarang. jaman dulu kayaknya murah banget meski udah lupa nominalnya berapa rupiah. karena minyak tanah memang bahan bakar memasak yang terjangkau masyarakat menengah ke bawah, dan harganya relatif murah setelah kayu bakar dibanding pilihan sumber energi untuk memasak yang lain seperti gas.

namun seiring bertambahnya waktu dan perkembangan jaman serta kemajuan teknologi dan naiknya daya beli masyarakat, lambat laun rumah-rumah di sekeliling kami yang biasa belanja minyak tanah pun pelan tapi pasti berkurang.

dengan mulai gencarnya pemakaian kompor gas yang lebih trendi, lebih bersih karena ga ada jelaga hitam di pantat panci, dan tentu saja anggapan umum bahwa mereka yang punya kompor gas di rumahnya akan merasa lebih kaya dibanding mereka yang masih pake kompor minyak, kepopuleran kompor minyak tanah pun pelan tapi pasti mulai memudar. kasta perkomporan ternyata ada juga ya di masyarakat kita hehe.

makin ke sini, kompor gas jadi lebih disukai. entah bagaimana sekarang kabarnya kompor minyak tanah, apakah masih banyak yang pakai?

ilustrasi kompor gas, 'minjem' dari sini

di eropa sini, ada dua kategori jenis dapur yang umum dimiliki rumah-rumah standar. yaitu dapur yang kompornya berbahan bakar gas terutama perumahan yang ada di kota-kota besar. dengan infrastruktur aliran gas yang sudah tersedia melalui pipa-pipa raksasa, bahan bakar gas dialirkan langsung dari tangki penyimpanan ke rumah-rumah penduduk. di sini jarang sekali orang yang pakai gas melalui tabung kayak di indonesia. saat ini setahuku di indonesia memang belum ada infrastruktur pipa gas yang dialirkan langsung ke perumahan, mungkin baru tersedia aliran pipa gas ke industri ya. cmiiw.

di inggris, gas dialirkan ke rumah-rumah melalui pipa, jadi udah kayak listrik gitu. di mana pemilik rumah tinggal bayar sesuai total pemakaian yang ditunjukkan oleh meteran gas. meski jarang, gas yang disuplai melalui tabung tetap ada, misalnya kalo mau dipake untuk barbeque-an, biasanya gasnya pake tabung. atau mereka yang bawa kompor gas portable untuk kemah atau camping, juga bawa gas tabung untuk keperluan masak.

nah,

jenis dapur yang kedua adalah jenis dapur yang kompornya ngga terjangkau oleh pipa gas. contohnya rumahku sekarang. karena pipa-pipa gas itu harus diinstal dan ditanam di bawah tanah, ngga semua rumah terjangkau oleh fasilitas ini. pipa gas biasanya cuma mengalir dari kota besar sampai ke kota-kota kecil saja, dan ke beberapa desa terdekat yang masih terjangkau fasilitas pipa gas. jika letak sebuah desa sudah agak jauh, maka di desa tersebut ngga ada aliran gas lewat pipa.

seperti desa di mana kami tinggal sekarang, ngga ada pipa gasnya!

kompor gas rumah-rumah di eropa, lengkap dengan oven

iya, aku memang tinggal di desa, ngga ada bakat jadi orang kota hehe.

sebuah pedesaan inggris yang nyaman, tenang, dan damai. gereja tua dekat rumah dibangun sejak abad ke 17. menaranya tinggi menjulang, dikelilingi rumah-rumah pondok (cottage) khas pedesaan inggris, beratapkan ilalang dan umurnya sudah sangat tua, mungkin jauh lebih tua dari mbah-mbah buyut kita. kayak foto-foto di kartu pos gitu lah, cantik dan mempesona pokoknya. dulu sebelum pindah ke rumah baru, kami justru malah jatuh cinta ke desa ini lebih dulu bahkan sebelum melihat rumah yang kami huni sekarang ini.

seringkali, karena alasan untuk melindungi kecantikan sebuah desa, fasilitas gas memang ngga boleh masuk, karena akan merusak keindahan akibat instalasi pemasangan pipa yang notabene akan melibatkan pengerukan tanah, galian di berbagai tempat, dan belum lagi kesemrawutan jaringan. makanya seringkali desa-desa pedalaman inggris yang cantik, ngga ada fasilitas gas untuk bahan bakar pemanas rumah dan untuk masak di dapur.

rumah-rumah non-gas ini akhirnya harus mengandalakan sumber energi lain untuk masak, yaitu listrik.

dapur non-gas biasanya memang kompornya memakai kompor listrik. bedanya dengan gas, kompor listrik ngga ada apinya hehe. masaknya pake elemen pemanas. ada lagi solusi lain selain kompor listrik untuk dapur non-gas, yaitu kompor induksi. rumahku pake yang induksi ini. bedanya dengan kompor listrik yang pake elemen pemanas, kompor induksi pake elektromagnet jadi lebih aman dan lebih keren hihi.

kompor listrik

nah, urusan kompor beres, tapi gimana urusannya dengan pemanas ruangan untuk rumah-rumah non-gas? karena biasanya di rumah-rumah yang bergas, pemanas ruangan juga pake gas. apakah rumah non-gas pemanasnya pake listrik? bisa mahal banget jatuhnya tagihan energi bulanan kalo manasin rumah pake listrik. alternatifnya pake apa hayo?!

ternyata oh ternyata, pemanas ruangan di rumahku tuh energinya pake minyak. bukan minyak sembarang minyak, tapi rupanya minyak yang dipake adalah minyak tanah, pemirsa! hahaha.

udah jauh-jauh merantau ke eropa, udah lama banget ngga masak pake kompor minyak tanah, eh ternyata ngga bisa juga melepaskan diri dari minyak tanah ini.

aku tahunya sih pas barusan pindah ke rumah baru dan suamiku bilang pemilik terdahulu ninggalin pesen tertulis kalo tangki minyak kami yang nongkrong manis di kebun belakang rumah harus diisi. kami pun nelpon perusahaan yang jual minyak. tadinya ya kukira minyak apaan gitu lah, ngga kepikiran banget. nah pas mereka datang pake mobil tangki gitu dan setelah selesai ngisi tangki mereka kasih nota pembelian, dan di notanya tertulis, kerosin (kerosene)!

di situ aku baru sadar kalo kami barusan beli minyak tanah, hehe.

tangki minyak kapasitas 2000 liter

ingatanku pun melayang ke masa lalu, masa di mana keluarga kami pernah jualan minyak tanah di warung, ketika kami masih pake kompor minyak tanah untuk masak sehari-hari, dan masa ketika minyak tanah masih jadi sahabat setia di dapur.

dulu, minyak tanah satu liter saja sungguh berharga untuk bahan bakar kompor di rumah, demi bisa masak untuk makan sekeluarga.

sekarang kami beli minyak tanah untuk bahan bakar pemanas rumah ngga cukup cuma satu atau dua liter, nggak cukup pula cuma satu atau dua tong. kapasitas tangki minyak di belakang rumahku ternyata 2000 liter (iya, dua ribu!). satu liter minyak tanah di inggris saat ini harganya sekitar 5000 kalau dirupiahin. jadi kalo isi 1000 liter bayar 5 juta, kalo 2000 liter bayar 10 juta.

1000 liter kira-kira cukup untuk pemanas rumah selama 3 bulan tergantung musim. kalo musim dingin ya habisnya lebih banyak dibanding pemakaian pas musim panas. dan rata-rata pemakaian energi di sini memang segitu, mau pakai sumber energi minyak atau gas, kurang lebihnya sama ngga terlalu beda jauh.

meski biasa kami isi ulangnya ngga sampai penuh, cuma 1000 atau 1500 liter aja supaya ngga kepenuhan, tetap saja beli minyak tanah sampai 1000-2000 liter sekaligus itu ngga pernah kebayang sama sekali dalam hidupku. duh, 2000 liter kalo belinya pake jerigen yang 10 literan musti bolak-balik berapa kali tuh ya ke warungnya?

dan kalo almarhum bapakku masih hidup lalu aku cerita tentang minyak tanah 2000 liter ini,  mungkin bapak akan terharu dan inget kisah keluarga kami jualan minyak tanah jaman dulu, kulakan minyak tanah ke pasar dengan jerigen minyak berkapasitas 50 liter dibonceng sepeda motor yamaha 80 bututnya.

ihhh, jadi kangen bapak...

Monday, 3 April 2017

kamera baru

ngga ada hujan ngga ada angin, tiba-tiba aku pengin kamera baru. random ngga sih?!

gara-garanya, pas sibuk nukang (baca: ngecat) wiken kemarin, iseng-iseng aku ambil beberapa foto pake ipad. tahu ndiri kan ipad tuh bagus buat moto cuma kalo pas terang benderang karena ngga punya flash! untungnya wiken kemarin emang cuaca lagi bagus banget, jadi aku dapet beberapa foto yang lumayan instagramable gitu deh. akhirnya satu foto emang kuupload hehe.

Friday, 24 February 2017

bedah rumah #1

...hmm kenapa ya belakangan ini judul postinganku mulai seneng pake nomor seri? dah gitu serinya nggak nambah-nambah lagi, mentok di nomor #1 atau #2 doank hihi. niatnya sih mau bikin postingan berseri dengan tema-tema tertentu gitu. cuma ya emang bisanya posting seupil-seupil karena keterbatasan waktu #tsahhhh #bilang_aja_blogger_kacangan

kali ini aku pengin mulai mendokumentasikan tentang konsep interior rumah baru (cerita pindah rumah ada di sini) serta proses penataan tiap ruang dari mulai kosong pas pindahan, lalu jadi gudang dadakan ketika box-box itu memenuhi ruangan sampe nggak bisa lewat, lalu mulai beres-beres, bongkarin box, nata furnitur, ngecat tembok, masang hiasan dinding, dll, sampai jadi rapi, layak huni, nyaman, dan cosy.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...