Thursday, 5 April 2018

napak tilas

tiba-tiba aku kangen jogja!

gara-gara apa ya kemarin itu, lagi berselancar di google map tahu-tahu iseng nyampe jogja. oh iya, gara-gara inget hotel ambarukmo. baca di mana gitu, lalu penasaran sekarang ambarukmo masih ada ngga ya. langsung lah aku ke internet dan nyari hotelnya. ketemu, masih kokoh berdiri dan sebelahnya malah udah ada mall-nya segala, ambarukmo plaza.

jaman dulu belum ada.

royal ambarukmo, masih berdiri megah di situ

***

ingatanku pun melesat kembali ke tahun 93-97... ke jaman kuliahan!

jaman masih susah, jaman masih muda, masih semaunya. empat tahun di jogja bukan waktu yang singkat. dulu tiap sudutnya aku hafal banget. dimulai dari pertigaan janti, ke jalan babarsari, mentok sampai universitas proklamasi yang waktu itu masih di tengah-tengah sawah, belok kiri lurus arah selokan mataram kiri lagi balik ke kledokan. lurus bakal nongol lagi ke jalan besar dekat hotel ambarukmo.

orang jogja yang tinggal sekitaran janti pasti paham.

dengan kecanggihan teknologi dan akses internet yang cepat dan mudah, kini kita bisa jalan-jalan melihat kondisi kota tertentu melalui lensa kamera google street view. meski fotonya mungkin sudah berumur beberapa tahun, tapi lumayanlah kan gratis. daripada kudu ke jogja kan harus beli tiket pesawat dulu hehe.

nah gara-gara inget jogja kemarin itu, jadilah aku pengin napak tilas, pengin jalan-jalan melewati rute yang dulu sering kutempuh dengan jalan kaki, tapi sekarang cukup dengan komputer dan internet.

napak tilas lewat internet ini kuawali dari jalan babarsari dulu.

rute napak tilas pake google street view

dari atas, foto satelit sudah terlihat agak beda di beberapa tempat. pertigaan janti yang dulu cuma pertigaan biasa yang ada lampu merahnya, sekarang sudah fly-over ya. ayam goreng suharti kayaknya masih awet aja di situ. rumah makan padang duta minang dan supermarket mirota kampus juga masih ada menurut google.

memasuki jalan babarsari, pemandangan mulai berubah. dulu trotoar yang bersih dan cuma rame sama warung tenda dadakan yang muncul selepas maghrib, sekarang jadi lebih rame. ada banyak toko pulsa bertebaran. universitas atmajaya dan upn juga kelihatan beda. hotel sahid juga tambah keren depannya. yang ngga banyak berubah cuma batan, tempat aku kuliah dulu.

pagarnya masih sama, gedungnya masih sama, pos satpamnya juga masih sama. mungkinkah bapak satpamnya juga masih orang yang sama? bisa jadi ya.

pos satpam yang tak lekang dimakan waktu

tempat menimba ilmu, 25 tahun yang lalu

tak lekang oleh waktu, namanya juga instansi pemerintah. bahkan tiang bendera di mana aku dulu sering didaulat jadi pembawa bendera kalo kena giliran upacara, masih berdiri kokoh di sana. aku di tengah bawa kain merah-putih pakai lengan panjang putih, rok selutut putih, peci hitam, sapu tangan merah di leher. persis paskibra gitu lah. sayang ngga punya foto, jaman dulu kamera itu barang langka. 

kalo kayak sekarang pasti udah selfi-selfi lah!

sebelah kiri-kananku yang paling sering kena tugas itu dua cowok paling tinggi dan #ehem, paling gagah di kelas. satunya teman baik (bahkan pas mudik tahun kemarin kami sempat ketemuan), satu lagi adalah siapa lagi kalo bukan... ehem, mantan! #uhuk #keselek_keyboard_laptop

aduh jadi keder...#mulai_ngga_fokus

***

mari kita lanjutkan napak tilasnya, kembali ke laptop!

seberang kantor batan tempat upacara tadi, dulu ada kos-kosan putri warna kuning oranye ngejreng. sampe sekarang pun ternyata masih ada, dan warna bangunannya tetap sama. dulu pagarnya suka dipanjatin anak-anak kos ceweknya yang bandel dan suka hobi pulang malam lalu terkunci di luar. biar bisa masuk ya manjat pagar besi itu. untung aku ngga kos di situ hehe.

bukan kos-kosanku tapi dulu sering main ke situ, hiks

ada salah satu teman sekelas cewe yang selama tiga tahun kos di situ. tapi aku ngga mau cerita banyak tentang dia di sini karena sayangnya dia sudah tiada, mendahului kami semua rekan-rekan sejawatnya, hiks.

sepanjang jalan babarsari ke arah bumi perkemahan dekat sungai, jaman dulu masih banyak hamparan sawah hijau di kiri dan kanan jalan raya. sekarang sudah ngga nampak warna hijau sama sekali. sudah penuh bangunan, toko-toko, warung makan. ada apotek, indomaret, bank, bengkel, baliho gede, bahkan sang pisangnya kaesang pun udah buka cabang barusan di situ!

coba 25 tahun yang lalu sudah ada ini
bisa makan pisang tiap hari!
eh, tapi si kaesang belum lahir ya :-D

semua itu baru. dulu mah belum ada, adanya cuma wartel :-p

sampai pojokan jalan babarsari, yang dulunya sawah hijau, sekarang udah gedung semua. bahkan ada perusahaan agen asuransi segala berkantor di situ. waduh...

sebelum belok kiri ke arah selokan mataram, mari mampir sebentar lurus melewati gapura pojokan babarsari, ke arah sungai, di mana aku pernah punya cerita istimewa tentang sebuah rumah besar yang begitu berarti dalam perjalanan hidupku. detil kisahnya sudah pernah kutulis dengan sepenuh hati dan agak-agak dramatis di tautan ini. dibaca ya...

jalan masuk ke sana ke arah bumi perkemahan di lembah sungai yang dulunya sepi pun sekarang sudah menjamur dipenuhi bangunan dan rumah-rumah. begitu sampai di pojokan, alangkah kagetnya aku ketika rumah besar di jogja itu kini kondisinya cukup memprihatinkan. entahlah sekarang bagaimana, yang pasti ketika mobil google melewati jalan ini, rumah itu hanya tinggal puing-puing bangunan yang tak terurus!

sedihnya...

ohhh, rumah besar di jogja itu, kenapa jadi begini? hiks

pintu depan itu, dulu aku pernah melewatinya

meski aku bukan pemilik, dan tak ada hubungan darah dengan si pemilik, tapi aku pernah punya kenangan di sana. pintu depan itu, aku pernah melewatinya. pintunya pernah diketuk bapakku waktu datang ke jogja menengokku sebelum akhirnya mampir ke bayat, klaten, desa tempat bapak dibesarkan. siapa sangka itu perjalanan bapak terakhir ke luar kota sebelum akhirnya jatuh sakit dua tahun kemudian dan ngga mampu melakukan perjalanan lagi sampai akhirnya tiada.

ah, napak tilas ini sepertinya akan berakhir sendu, hu hu hu...

lalu bumi perkemahan itu. tempat aku dulu sering main ke sana, menuruni lembahnya yang berumput dan berbatu, turun ke sungai yang airnya cukup jernih, lalu main air sampai basah kuyup. sama siapa? kadang rame-rame, kadang sama mantan #eaaa

tapi kemana hilangnya pohon-pohon jambu monyet di pelataran bumi perkemahan yang dulu banyak dan rimbun menghijau, yang dulu sering kami ambil buahnya cuma untuk dibuang karna masam rasanya, dan kami cuma ambil kepalanya untuk dibakar dan kacang metenya kami makan?

kemana hilangnya pelataran bumi perkemahan yang dulu cuma tanah berumput yang asri dan masih alami? sekarang sudah bertembok dan dipagari rapat. semua sudah berubah, dan ini membuatku sedih termangu #sroooot #buang_ingus

bumi perkemahan yang dulu belum ada pagarnya

***

tarik nafas dalam-dalam, mari kita lanjutkan napak tilas nostalgia ini.

kembali ke jalan babarsari besar, balik kanan keluar gapura. aku lalu belok kanan lagi lurus ke arah selokan mataram. sama seperti ketika memasuki babarsari dari arah janti tadi, jalan yang dulunya kosong dengan sawah hijau pun kini tak lagi kukenali. kiri kanan penuh dengan toko dan bangunan perkantoran. dulu satu-satunya bangunan besar di situ cuma sekolahan smp-sma negeri sleman.

mantan dulu sering main basket di situ kalo sore, atau minggu. halah, mantan lagi mantan lagi :-p

sekolahannya masih sih, cuma sekitarnya yang dulu hanya sawah dan tanah kosong, sekarang sudah penuh bangunan semua. sampai mentok pertigaan, aku belok kiri ke arah desa kledokan. di situ dulu aku dan hampir semua teman seangkatan, ngekos selama hampir empat tahun.

pembangunan demikian pesatnya. dari segala arah, sudut-sudut jogja yang dulu sangat kuhafal, sekarang hampir tak kukenali lagi. memori masa laluku kini nampak jauh berbeda. banyak pemandangan yang hilang dan tak lagi kuingat.

desa kledokan pun kini terlihat jauh berbeda.

desa kledokan dan kampus babarsari dari satelit

dulu jalanannya di sana sini masih tanah berbatu, sekarang semua sudah paving blok. kebun-kebun pisang dan bambu di halaman depan, belakang atau samping rumah-rumah penduduk yang sederhana, sudah hilang semua. warung-warung penjual nasi yang dulu sering kudatangi untuk membeli pengganjal perut, berganti dengan minimarket-minimarket kekinian.

kucoba telusuri lagi jalan-jalan kampung yang dulu selalu kutapaki setiap pagi, siang, sore dan malam.

dengan mata setengah nanar kucari-cari rumah atau bangunan yang masih bisa kukenali. semuanya sudah berubah. bahkan aku gagal menemukan rumah yang dulu kutempati sewaktu aku jadi anak kos di situ. untunglah satu dua bangunan yang dulu sering kukunjungi karena beberapa teman kos di sana, mulai ketemu. meski kondisinya tak lagi semegah dulu, tampak kusam dan agak kurang terawat, tapi wujudnya masih ada.

masih kulihat sebuah rumah di mana aku dulu pernah terjatuh dari atas sepeda ontel dan kakiku terkilir, yang menandai awal dari pahit manis kisah asmaraku dengan si mantan.

di depan rumah sebelah kanan, aku pernah terjatuh naik sepeda
kaki patah terkilir dan bengkak seminggu
sembuhnya setelah dipijit sama...
mantan! #eaaaa

kulanjutkan perjalananku memasuki desa ini ke arah kampus.

tak lama terlihat sebuah bangunan lain bercat putih yang terlihat tak banyak berubah. ah, syukurlah. masih ada juga tempat kos yang bisa kukenali. dari dulu rumah besar ini selalu dicat putih. kami menyebutnya kos-kosan gedung putih. pernah jadi kosan pria, tapi lalu oleh pemiliknya yang tinggal di sebelahnya diubah jadi kos-kosan putri. namanya juga diubah supaya terdengar lebih feminin, tapi kami ngga pernah hapal. kami tetep menyebutnya kos-kosan gedung putih.

kos-kosan gedung putih, sampai sekarang warnanya tetap putih

dua rumah ini dulunya cuma satu rumah ngadep ke samping

***

agak lama juga aku muter-muter di sekitar situ. mencari-cari sisa-sisa kenangan masa lalu.

pagar besi pintu masuk ke arah kampus dari gerbang belakang terlihat masih persis sama ketika kutinggalkan jogja 21 tahun yang lalu. warung bu lotek di tengah-tengah desa dekat gang masjid masih berdiri kokoh di sana. entahlah apakah bu lotek-nya masih hidup? siapa yang jualan lotek sekarang di situ? anaknya? yang pasti sekarang warung bu lotek sudah dicat warna oranye gelap ngejreng. seleranya bisa aja si ibu. semoga blio panjang umur dan masih sehat.

pagar belakang kampus, masih persis seperti itu, 25 tahun lalu!!!

warung bu lotek, jualan lotek. semoga beliau panjang umur dan masih sehat

di sekitar tugu desa kledokan, masih ada warung nasi kucing yang mangkal setiap sore sampai malam menjelang pagi. semoga nasi bungkusnya masih sama dengan porsi seupil dan lauk ikan asin beserta sambal yang juga seupil. semoga wedang jahenya yang hangat masih sama segarnya. dan semoga gorengan serta sate jeroannya masih lezat seperti dulu.

warung nasi tugu sekarang sudah berubah jadi, indomaret!!!

tugu kledokan, satu dari sedikit kenangan yang tak berubah

gerobak nasi kucing, semoga tetap laris manis

meski jogja seperti halnya kota-kota lainnya, hijau alamnya perlahan tapi pasti menghilang digerus roda pembangunan, beberapa hal memang tetap tak berubah. tugu kledokan masih berdiri kokoh membisu, tak lekang dimakan waktu. begitu juga semua kenangan indahku di situ.

ah jogjaaa, kuingin bersua! #eaaa

"pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu"

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...