Thursday, 19 April 2012

(bukan) universitas ternama

+ mbak, dulu s1-nya di mana sih? pertanyaan klise ini sering sekali dilontarkan kepadaku. dan jawabku dari waktu ke waktu pun selalu sama.
- di jogja, tapi bukan s1, aku dulu d3.
+ ohhh, UGM pastinya ya.
- errr, bukan. aku dari batan.
+ batam? katanya jogja?
- (argghhh) bukan batam, tapi batan, instansi pemerintah, singkatan dari badan tenaga nuklir nasional.
+ ohhh, apaan tuh mbak?
- *gubrag*

atau ada juga yang bertanya seperti ini:

+ mbak dulu d3 trus lanjut s1 kan ya
- iya, ambil kuliah sabtu-minggu sambil kerja
+ di mana mbak ambil ekstensinya
- di jakarta
+ ohhhh, ambil ekstensi UI ya
- errrr... bukan. aku ambil ekstensi di mercu buana
+ ohhh, bukan UI ya

sepertinya ada nada kecewa dari si penanya tiap kali aku menjawab pertanyaan-pertanyaan klasik itu dengan jawaban-jawaban yang ternyata tidak seperti yang mereka harapkan. karena biasanya si penanya adalah bukan teman dekat yang kurang mengenalku secara pribadi, yang tiba-tiba mendapatkan informasi seputar beasiswa yang kuperoleh hingga aku bisa belajar ke eropa. asumsi mereka, pastilah aku dulu lulusan universitas ternama di indonesia, dan ketika aku patahkan asumsi itu, mereka rupanya agak bingung juga. pikir mereka mungkin, koq bisa ya?

sistem pendidikan di indonesia yang sayangnya masih belum berpihak pada rakyat kecil seperti di negara-negara maju, memang melahirkan kecenderungan di mana hanya mereka yang mampu dan berduit saja yang berhak untuk belajar di lembaga-lembaga pendidikan yang mutunya bagus dan sudah ternama. yang tidak mampu membayar meski berprestasi, silakan antri di belakang. kalau ada tunjangan dana beasiswa, satu dua mungkin bisa ditopang, selebihnya terpaksa tersingkir dari arena bahkan sebelum persaingan inteligensia dimulai.

karena mutu pendidikan di lembaga-lembaga ternama ini memang bagus meski biayanya mahal, otomatis generasi-generasi lulusan yang dihasilkannya juga lebih siap tanding di dunia nyata (meski tak semua). hingga tak heran pola pikir masyarakat terlanjur percaya dan meyakini bahwa mereka-mereka yang (terbilang) berprestasi dan (terbilang) sukses di dunia akademis, pasti jebolan dari lembaga-lembaga bergengsi ini seperti asumsi penanya-penanyaku tadi. sebut saja UI, UGM, ITB, IPB (si empat besar), dan lain-lain.

maka ketika aku, seorang lulusan instansi pemerintah yang bisa bersekolah D3 karena dibiayai oleh negara, setelah itu terseok-seok melanjutkan ke jenjang s1 dengan biaya sendiri sambil bekerja dan tentunya lebih mengutamakan segi praktikaliti dan keterjangkauan biaya (ekstensi mercu buana) daripada ketenaran dan mutu tinggi sebuah lembaga pendidikan (ekstensi UI), orangpun terheran-heran. koq bisa?

karena nyatanya seorang lulusan ekstensi mercu buana memang bisa mendapatkan beasiswa erasmus mundus, belajar di eropa dan kini bekerja di inggris, ekspresi keheranan yang seringnya sulit disembunyikan itu seharusnya diubah dari "koq bisa" (how come? - seakan tak percaya) menjadi "oh, ternyata bisa ya" (pembangkit semangat).

karena nyatanya terlahir di indonesia dan menjadi warga negara indonesia, hak setiap anak dan remaja untuk mendapatkan pendidikan yang layak untuk pengembangan inteligensia yang seharusnya diberikan oleh negara, ternyata tidak bisa dengan mudah diperoleh kecuali kekayaan orang tuanya cukup untuk menopang dana pendidikan yang tidak bisa disebut murah di negara yang (katanya) subur, makmur dan kaya raya ini.

karena nyatanya punya otak pintar saja tidak menjamin seseorang yang hidup di indonesia untuk meraih kesuksesan jika pintu-pintu kesempatan untuk maju dan berkarya dengan baik dan pintu-pintu kesempatan untuk mengembangkan bakat dan minat tertutup rapat-rapat di depan mereka karena tingginya tembok-tembok lembaga pendidikan yang cuma bisa ditembus dengan fulus!

karena nyatanya universitas-universitas ternama itu memerlukan dana operasional yang sangat besar setiap tahunnya untuk memastikan proses belajar-mengajar, penelitian, riset dan pengembangan akademia bisa berjalan dengan lancar dan mutu yang tinggi tetap terjaga, sementara pemerintah tidak cukup mampu untuk menyediakan sebagian besar dana tersebut hingga universitas mau tak mau harus menjaring calon-calon siswa yang orang tuanya berkantong tebal hingga bisa di'peras' isinya untuk bisa menutup anggaran yang dibutuhkan. begitu terus menerus dari tahun ke tahun, meski presidennya sudah ganti berkali-kali. belum ada satupun yang bisa memberikan hak pendidikan ke seluruh rakyatnya!

siapa yang jadi korban?

mereka yang terlahir dengan otak cemerlang dan dari rahim wanita kaya, adalah yang paling beruntung (bersyukurlah!). sejak kecil mereka diberikan kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang bagus dan bermutu, otak cemerlangnya pun menjadi semakin gemilang. sudah bahannya stainless steel, diasah terus pula. pedang yang tajam pun tercipta dengan mudahnya.

mereka yang terlahir dengan otak pas-pasan bahkan terkadang lemot tapi orang tuanya kaya pun masih bisa disebut beruntung jika hidup di indonesia. dengan kemampuan orang tuanya untuk menyekolahkan anaknya di lembaga-lembaga pendidikan yang mutunya tinggi, tidak sulit bagi si anak lemot untuk mau tak mau dijejali informasi berkualitas. meski nyantolnya mungkin agak pelan dan kurang cerdas, ibarat batu jika ditetesi air lama kelamaan akan cekung juga. asal ada uang, pendidikan bagus dan bermutu pun bisa didapatkan.

mereka yang terlahir dengan otak cemerlang tapi miskin adalah yang paling sial menurutku. beberapa orang teman yang kutahu dari kecil berotak cerdas tapi terpaksa berhenti sekolah karena orang tuanya berkutat untuk mencukupi makan sehari-hari saja ngap-ngapan, ibarat permata tak terasah yang dibenamkan ke kubangan lumpur, ditutup coran beton, dan ditimbun lagi dengan sampah yang berbau busuk. terlalu sulit dan berat bagi si permata untuk menunjukkan kemilaunya kepada dunia. tak ada satupun yang berpihak kepadanya, bahkan pemerintah pun memalingkan muka, how frustrating! satu dua permata memang akhirnya bisa berjuang terbebas dari lumpur yang membenamkannya, atau ada pihak-pihak yang mengentaskan mereka dari lumpur, tapi jumlah mereka tak seberapa.

terakhir, mereka yang terlahir dengan otak pas-pasan, bakat pas-pasan, kecakapan pas-pasan dan dari keluarga pas-pasan, termasuk kelompok sial juga tapi masih mending karena tuntutan dan desakan dari dalam dirinya untuk maju dan sukses mungkin tak begitu besar. meski temanku dulu sering nyeletuk, orang paling kasihan sedunia adalah orang jenis ini; sudah bodoh, miskin pula.

mari sekarang kita amati sekeliling kita

ada berapa penduduk indonesia yang kaya dan mampu membiayai sekolah anaknya sampai ke perguruan tinggi atau bahkan ke luar negeri? tak banyak! jadi meski semua anak-anak mereka (yang berotak cemerlang maupun yang lemot) bersekolah dengan baik dan lulus dari universitas-universitas ternama, (tanpa tersandung perkara terlibat obat terlarang, narkoba dan semacamnya), jumlah mereka toh tak seberapa.

lalu bandingkan, ada berapa penduduk indonesia yang hidupnya pas-pasan dan harus berjuang atau bahkan kebanyakan tak sanggup untuk menyekolahkan anaknya, alih-alih ke universitas ternama, selesai sekolah menengah saja sudah sujud syukur? dan berapa penduduk indonesia yang sama sekali belum pernah mengenyam bangku sekolah menengah dan hanya lulus SD? kalau mau jujur, persentase terbesar rakyat indonesia ada di kelompok ini.

lupakan kelompok terakhir yang miskin dan bodoh. mereka tak begitu banyak. mayoritas penduduk indonesia adalah kelompok yang berpotensi pintar, berbakat, cerdas dan mampu bersaing di dunia global, jika dan hanya jika permata-permata tak terasah dan berlumpur ini bisa diangkat dari kubangan dan diberikan kesempatan untuk menunjukkan kemilaunya, kepintarannya, bakatnya, potensinya dan kemampuannya.

meski nyatanya, masih sangat banyak dari mereka yang tetap terbenam di lumpur, karena untuk mengangkat sebuah permata dari kubangan diperlukan dana pendidikan yang tak sedikit jumlahnya dan hingga kini negara (masih) 'tak mau' menanggungnya. dengan pendapatan per kapita rata-rata penduduknya yang masih timpang dibandingkan jumlah kekayaan kaum elitnya, permata-permata terlupakan itu akan tetap berada di sana. tak pernah terasah, tak pernah bersih dari lumpur dan takkan pernah terlihat kemilaunya.

sungguh sayang...




.:kalau kamu suka artikel di atas, mungkin kamu suka ini juga:.

31 comments:

  1. Itulah. Aku menolak komersialisasi pendidikan. Seperti yg guru lesku dulu bilang pendidikan adalah salah satu cara untuk bisa memperbaiki hidup seseorang. Mengaca dr pengalaman papaku, aku setuju dgn guruku itu. Papaku dulu orang susah, tp beliau rajin sekolah. Dengan ilmunya yang didapat dari sekolahnya, beliau berhasil meningkatkan taraf kehidupannya. Beliau bisa punya kehidupan yang lebih baik.

    Sekarang, kalau anak-anak miskin di luar sana tidak mendapat akses ke pendidikan, bagaimana mereka bisa mengubah kehidupan mereka untuk menjadi lebih baik?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hiihi, aku suka kalo kimi yg komen, awalnya selalu satu kata, itulah, nah, dkk. jd semangat bacanya LOL! salam buat papa ya Kim, udah baikan kan sejak pulang dr spore? semoga sehat selalu ya :-) negara berkembang sayangnya masih seperti itu, hak belajar hanya milik yg punya uang... apa mau dikata :-p kalau kimi jd presiden tolong dirubah yah yah yah :-D

      Delete
  2. Paragraf awal itu sering juga ditanyakan ke aku :))
    Suka banget sama tulisan ini. Kenyataannya banyak kok yang masih "meremehkan" lulusan yang bukan dari universitas tertentu. Entah kenapa kaya gitu. Efek image yang tertanam sejak jaman dulu-dulunya kali ya, semacam prestige gitu kalau lulus dari universitas tertentu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. jeng devi, makasih kunjungannya *gelar karpet merah ada tamu agung* hehe... begitulah jeng, aku ga komplain sih, cuma ingin tereak ajah haha *sama aja yak* tp minimal dg baca tulisan abal-abalku ini, mudah2an mereka2 yg ga sanggup bayar mahal masih tetap semangat sekolah, dan yg suka berasumsi dan meremehkan, mulai berubah pola pikirnya, amiennn :-) *spread the love spread the love* - #oposihiki hihi

      Delete
  3. Terima kasih telah menulis ini, Bu Rin. Saya termasuk salah satu yang sial (dalam hal ini). Saya dulu iri dengan kelompok beruntung, dan itu yang memotivasi untuk terus bergerak. Sampai pada tahap tertentu dengan usaha dan kerja keras, saya bisa memperoleh pencapaian yang sama bahkan lebih dari mereka beruntung. Kenapa saya berani bilang saya memperoleh pencapaian yang lebih? Karena saya mendapatkan pencapaian itu dengan melalui proses sulit yang belum tentu dapat dilalui oleh mereka - mereka yang beruntung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha may, ayo kita bentuk organisasi manusia-manusia sial xixixi asal ga sialan aja sih gpp haha... ga usah iri may.. justru dg melewati jalan yg terjal berliku (ciehh) kita akan menjadi lebih kuat (kayak gatotkaca :p) dan pas sampai di puncak bisa lebih bangga... pan ga seru kalo ke puncak gunung naik heli trus mendarat langsung sampe hehe :-p

      Delete
  4. Nsyaaaaa...
    sukaaaa banget postingan iniiii...

    me motivasi sekaliiii :)

    Mudah mudahan Kayla ntar bisa dapet beasiswa juga yaaa...

    satu hal yang aku penasaran...
    bagian nuklir???
    serius Nay???

    kerjanya apaan aja tuh?
    *serius penasaran*

    ReplyDelete
    Replies
    1. :-p xixi si bibi selalu heboh kalo komen wekekekek...amiennn aku doain Kayla bisa melanglang buana juga yah ke seluruh dunia, biar mamanya bisa ikutan gitu kan maksudnya hihihihi...
      soal nuklir, dulu kuliahku jurusan itu bi, teknik nuklir...bukan kerja hehe... belajarnya ya soal reaktor nuklir dan teman2nya, tp ga diajarin bikin bom koq jgn kuatir :-D

      Delete
  5. Ispired boangat tulisannay.

    Aku adalah salah satu orang yang hidupnya pas-pasan. Karna itulah, aku ingin belajar, belajar, and belajar. Agar taraf hidup kami lebih meningkat. Life is a stuggle, itulah yang sering dikatakan ibuku kepada anak2nya. Saya bangga pada ibuku yang selalu memberikan motivasi kepada anak2nya untuk tetap sekolah, walaupun beliau sendiri tidak tamat SD. Klo ngga kemauan untuk maju dari diri sendiri, apalah gunanya hidup ini (semangattt kawandd).
    Love you mom.

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju;)..
      ga sepatutnya pendidikan itu dikapitalisasi..
      Selagi ada kemauan pasti ada jalan, tetap bersemangat dan berusaha keras untuk mendpatkan pendidikan terbaik...
      btw, mb nay berarti keluar dr pns ya mb???

      Delete
    2. aku ga keluar dari pns, karena memang ga pernah (sempat) jadi pns :-) alasannya pernah kutulis di artikel ini http://www.nayarini.com/2012/03/memori-smansadem.html

      Delete
  6. Setuju banget dengan tulisan ini...sangat memotivasi...karena itu juga berlaku buatku,, untuk kuliah sambil kerja dengan usaha sendiri bukan sesuatu yang mudah digapai..apalagi dengan faktor ekonomi yang tidak menunjang,,bukan terlahir dari orang berada..so,harus berjuang untuk sekolah...kuliah di universitas ternama memang mendapat prestise yang lebih..terkadang karena bukan dari universitas ternama kita disepelekan,,tapi semua itu balik lagi ke pribadi kita masing2..jika semua lulusan seperti Miss Nayarini..bisa membuktikan kepada Dunia,,setidaknya membuka mata sekeliling kita..ternyata yang lebih bermutu itu bukan Universitas nya, karena beberapa anak2 babe,,kuliah hanya untuk gelar saja dan setelah itu hidup dari biaya orang tua ,dan ketika selesai kuliah tinggal melanjutkan usaha orang tuanya saja..faktor yang paling penting adalah apa motivasi kita sebagai mahasiswa-i untuk kuliah..hanya untuk gelar saja kah??atau tempat untuk cari jodoh?? Buktikan pada Dunia....dimanapun menuntut ilmu asal itu dengan niat dan usaha..tidak ada yang tidak mungkin..everything is possible....

    ReplyDelete
  7. saya setuju banget sama postingan ini,,karena jujur saya jg mahasiswa yg brasal dr kluarga pas2an,,yang ingin sekali menganggkat derjat org tua sya,, karena org tua sya bner2 kerja apapun yg bs dilakukan bwt biaya kuliah sya yg bs dblang cukup mahal karena saya mengambil jurusan s1 farmasi,,yg universitasx notabene tdk terkenal,,,
    pada suatu ketika sya pernah brtanya kepada teman saya ..
    saya : kenapa km kok jrang masuk kuliah bro,,prktikum pun kdg km g masuk
    tmn saya : km kuliah bwt cari apa,,,,
    saya : ya bwt lulus dpt title trs kerja,,trget slsesai 4 thn
    teman saya : emang km jamin stlah lulus lsg bisa dpt kerja n jbtan yg sesuai
    saya : y g tau yg pntg usha dlu
    dengan enteng dia jawab
    tmn saya : ku mau kuliah slsai 4 thn kek apa 6 thn,,qw nyantai aja org begitu lulus dpt tittle qw lsg kerja,,di instalasi msyrakat mna gitu kn ortu qw ada kenalan,,,
    nah sikap nepotisme inilah yg paling sya g suka di indonesia,,klo smua org kya gitu kta org pas2an kbgian apa cb

    ReplyDelete
    Replies
    1. nepotisme mudah2an lambat laun akan tergerus dg perkembangan jaman. kalau tidak bisa menunjukkan kinerja yg bagus meski ada kenalan di situ, pasti juga akan kelihatan koq prestasinya. mudah2an generasi orba yg selalu mengandalkan KKN akan segera berakhir dan digantikan dg generasi2 muda yg baru, segar dan anti-KKN di kemudian hari. amien :-)

      Delete
  8. Nayaaaaa...
    Aku ijin nge-link tulisanmu yang ini ke postingan terbaruku yaaah...
    Bakal aku publish besok senin okeeeeh :)
    Nanti aku tag via FB kalo udah publish deh yaaah:)

    Tengkyu Naaaay :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sok silakeun atuh biiii, makasih ya dah di endorsed hihi ditunggu rilisnyaaaa :D

      Delete
  9. Saya pengen lanjut kuliah program kelas karyawan di mercu buana kak, tapi mash ragu.. Soalnya saya biaya sendiri tanpa campur tangan orang tua. Saya takut berhenti di tengah jalan karna gak ada biaya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asal tekadmu kuat pasti bisa. Aku juga dulu biaya sendiri. Fokus saja sama mimpi mimpimu kalo bisa punya ijasah impianmu akan tercapai. Semangat yaaa :D

      Delete
  10. Mba Naya, saya emang ada niat buat lanjut ekstensi S1 kelas karyawan di unversitas mercu buana. Soalnya nyari beasiswa ke luar negeri dr D3 ke s1 susah bgt. Trus pas mau daftar sempet ragu apa bisa lulusan s1 univ mercu bisa lanjut s2 di luar negeri dgn beasiswa atau non-beasiswa,lagi browsing info di google nyasar di blog nya mba.. ^_^
    Boleh gak aku nanya2 lagi lebih lanjut email aku raras.ds@gmail.com please bgt butuh pencerahan soalnya cuma di mercu yg waktu dan biaya nya memungkinkan aku buat lanjut S1..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hi Dewi Sri Raras :-)
      makasih udah nyasar kemari

      silahkan kalau mau nanya-nanya lewat email. boleh kirim ke nayarini at gmail dot com atau indromeo2004 at yahoo dot com. ditunggu emailnya yaaaaa.

      Delete
  11. Kak, kakak lulusan sttn-batan kah? Kalau boleh tau, menurut kk gimana prospek sttn sekarang?
    Terimakasih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. bukan, meski sama saja sebenarnya. waktu jaman aku dulu namanya masih PATN, belum jadi STTN. bedanya, dulu D3, sekarang setelah jadi sekolah tinggi, tingkatnya Setara S1. prospeknya sepertinya tetep bagus, karena dunia industri masih butuh banyak lulusan yg ngerti radiasi.

      Delete
  12. Kak naya dlu di PATN masuk ke prodi elektromekanik, elins, atau teknokimia nuklir?

    ReplyDelete
    Replies
    1. dulu prodi elins, elektronika instrumentasi nuklir :-)

      Delete
  13. Sangat menginspirasi sekali Kak ๐Ÿ˜Š tetap semangat pada semua mimpi-mimpi. Jadi semangat setelah baca blog ini, semoga bisa menyusul ke Inggris juga hihiii

    ReplyDelete
    Replies
    1. hi Nadya Irna. ikutan mengamini, semoga impianmu terwujud yah ๐Ÿ˜Š semangat!!

      Delete
  14. Thanks mba infrormasinya kebetulan lagi car informasi lanjut kuliah S2 di Mercubuana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Ichsan, sama-sama. Mudah-mudahan lancar dan niatnya kesampaian yah :-) Semangat!

      Delete
  15. "Fokus saja sama mimpi mimpimu" suka bgt sama quote ini mbak..thanks mbak, postingannya bikin saya semangat kuliah lg meskipun sdh tdk muda lagi hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai Nisa, terima kasih sudah sudi mampir. tetap semangat mengejar mimpi mimpi ya...tunjukkan kemilaumu pada dunia ๐Ÿ˜Š

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...